Selasa, 06 Oktober 2015
Secercah diriku. Ditengah malam yang sempit aku menjadi seorang penikmat kesendirian malam. Ditengah terik sang rembulan aku melantunkan nada-nada sendu senang. Sang orbit yang menyaksikanku tertegun mendengar alunan-alunan dari sang Maha pencipta. Sungguh tersiksanya aku dalam dekap karat kesalahan semalama hidup. Terpancar dari Rautku air terjun juga Pelangi. Sedu senang menjadi selimutku malam itu. Aku tak bisa melepaskan rasa gaib ini. Dan tak mampu ku menahan malu yang sudah berkepanjangan ini tuk BertemuNya dengan Telanjang. Aku menjadi sebuah serpihan molekul terkecil yang berada di atas sehelai benang yang derajut dengan penuh cinta DiriNya.
Jumat, 17 Juli 2015
Pukul dua belas lewat lima puluh dua
Pukul Dua Belas Lewat Lima Puluh Dua
Pukul dua belas lewat lima puluh dua, aku duduk bersila diatas sajadah yang sudah tak laik digunakan. Airrmataku berlinangan menderas. Hari nan indah sudah hadir, dan disinilah sekarang. Tetapi aku tak kuasa menahan dentuman batin yang kurasa. Bukan tentang hal skripsi atau orang tua ataupun tentang nasib percintaanku yang kandas, tetapi tentang diri yang belum siap untuk menyambut hal Fitri ini.
Seumur hidupku menjadi terasa hambar. Tak terasa, tak terkecap, juga tak teraba sedikitpun esensi dari hidupku. Tetapi berapa banyak ajaran yang sudah di berikan untukku. Guru-guruku yang tak kenal lelah mengajar? Kendati aku selalu pekok mempraktikkan kedalam kehidupan. Hidupku sudah teramat rumit sejak orang tua kami berpisah beberapa tahun lalu.
Pada sepertiga malam inilah aku menangisi gejolak pencarianku tentang diriku sendiri. Tetapi aku seperti tak tahu diri dalam kehidupan ini selalu, selalu dan selalu meminta apa yang aku inginkan dan apa yang aku butuhkan, tetapi aku tak pernah bisa memberikan senyuman kepada orang-orang yang berada dilingkaranku. Aku terlalu egois dalam kesendirianku, tanpa aku mampu membuat orang-orang di sekitarku tersenyum karna aku tak mampu membuat diriku berguna untuk mereka.
Bahkan aku tak pernah berfikir tentang seberapa sering aku telah menyakiti perasaan orang tuaku dengan segala ucapan juga perbuatanku? Seandainya ucapan dan perbuatanku yang buruk itu bisa berbicara kepadaku mungkin aku bisa mati mendadak karena sudah terlalu banyak kedurhakaanku yang telah lakukan kepada kedua orang tuaku. Betapa hancur lebur perasaan mereka. Tetapi aku selalu menari, menari dan menari diatasnya. Sungguh mulia mereka tak menuntut apapun dariku. Jikalau sekali saja mereka menuntut, tentu aku tak mampu untuk mewujudkannya.
Susah sekali aku disuruh bertaqwa, bahagia, berbakti, membantu orang lain dengan ikhlas. Padahal apa yang mereka tuntut tetap saja semua untuk kebaikanku kelak menjalani kehidupan yang kekal. Sungguh tak tahu berterimakasih, tak pernah tahu diuntung. Saat ini aku tak tahu apa yang harus aku lakukan untuk memperbaiki semuanya. Selama ini aku adalah salah satu manusia yang menjadi korban gerusan waktu.
Lalu bagaimana aku menyambut hari yang fitri ini? Dengan apa? Apa yang harus aku rasakan? Kenapa orang yang sehinaku ini harus berada di hari yang suci? Kapan aku bisa benar-benar bisa menjadi fitri? Dan siapa aku berani-beraninya selalu meminta tanpa memberi? Inilah pertanyaan-pertanyaan yang selalu melintasi fikiranku silih berganti. Bahkan saat ini aku tak sempat berfikir tentang besok aku harus makan apa? Siapa yang akan memberikanku uang? Kapan aku bisa jadi orang kaya? Besok harus beli baju seperti apa?
Terkadang saat aku memaksa diriku untuk menyelam dalam diri, aku seperti melihat gambaran-gambaran masih ada orang yang diberikan kesusahan lebih dari apa yang sedang aku alami. Banyak dari mereka yang kehilangan sanak saudaranya karna bencana alam, banyak pula dari mereka yang terancam oleh peperangan berebut kemerdekaan, bahkan banyak dari mereka yang tidak mampu menikmatii sebutir nasi setiap harinya.
Sudah berulang kali aku di tegur oleh Sang Maha Segalanya. Parahnya, aku tak sadar juga oleh teguran itu? Sungguh biadabnya diriku. Seorang manusia yang mempunyai sisi biadab sepertiku harus merasakan hari yang fitri ini? Apakah pantas? Tetapi aku sangat bersyukur karena aku masih di beri waktu untuk menyelami siapa diri ini. Akhir-akhir ini sepertinya hanya kata celaan saja yang pantas menjadi sebuah gelar untukku. Bukan gelar sarjana, yang sekarang sedang kuusahakan terlaksana.
Ternyata benar seperti yang diucapkan oleh guruku, bahwa kita ini sebuah butiran debu yang bisa terhapus oleh waktu. Karna kita sesungguhnya tak mempunyai apapun yang patut kita banggakan. Keinginan- keinginanlah yang selama ini selalu mengontrol perjalananku yang hambar itu.
Idul Fitri bisa diartikan sebagai puncak atau klimaks dari pelaksanaan ibadah puasa di bulan Ramadhan. Berdasarkan pengertian itu saja, apa masih pantas aku merayakannya? Masih teramat banyak penyakit yang bersarang dalam diriku. Hingga detik ini aku masih berusaha untuk menyisihkan penyakit-penyakit itu. Begitulah hal yang ku rasakan saat ingin menyambut hari yang Fitri ini.
Omah Suwung
Ciracas, 16 Juli 2015
Terimakasih dan Mohon maaf untuk semua makhluk semesta
Rahmat Rama Respati