TOKOH BESAR ini lahir di Desa Mlati, Yogyakarta, pada 7 Januari 1852. Sebelum menjelma sebagai Dokter Bangsa, pria yang juga menjadi pahlawan pikiran ini sangat berbudi luhur. Meski sudah mempunyai gelar dokter, ia tetap merakyat. Tak sedikit pun ia membuat batasan dan kasta. Anak dari ayah bernama Harjosudiro, seorang pegawai kesultanan Yogyakarta ini, menganggap rakyat Indonesia harus duduk sama rendah juga tak sudi jika bangsanya diinjak-injak. Itulah alasannya untuk tetap terus berjuang tak kenal lelah. Walau darah harus menetes dan jatuh di atas Tanah Air tercintanya.
Budi Utomo
Dokter Wahidin Sudirohusodo terkenal pandai menabuh gamelan dan mencintai seni suara. Pada 1906, ia berkeliling Jawa. Mendatangi para pembesar pribumi terkemuka, agar mau menyisihkan sedikit uang mereka yang nantinya digunakan untuk menolong para pemuda yang cerdas, dan mengajak mereka membangun organisasi.
Hasilnya nihil. Ia merasa seperti pengembara berteriakteriak di tengah padang pasir ditemani dengan teriknya jiwa keputusasaan. Tak ada satu pun yang mendengar. Semua seruannya menjadi angin lalu yang berhembus ditengah gurun dengan mentalitas umum priyayi: padamnya terik kemerdekaan di dalam dada mereka.
Sampai akhir 1906, dr. Wahidin bertemu dengan para pemuda di sekolah dokter JawaSTOVIA. Ia diberi kesempatan menyampaikan gagasannya di forum Demonstrasi Demokrasi. Ia pergunakan betul panggung itu untuk menggugah semangat berorganisasi para pemuda yang baru ditemuinya.
Kali ini usaha dokter Wahidin tidak sia-sia. Beberapa pemuda tergugah: Sutomo dan dua bersaudaraGunawan Mangunkusumo dan Cipto Mangunkusumo. Suaranya yang jelas dan tenang, membuka hati dan pikiran saya. Ia membawa gagasan baru dan membuka dunia baru, melipur saya yang terluka dan sakit, tulis Sutomo dalam bukunya, Kenang-Kenangan (1943), mengisahkan pertemuan itu.
Sutomo, yang ketika itu berumur 19 tahun, langsung bergetar jiwanya. Hanya hitungan bulan setelah pertemuan itu, tepatnya 20 Mei 1908, dr. Wahidin dan kawan mudanya dari STOVIA mendirikan organisasi bernama Budi Utomo.
Tapi, ceramah dokter Wahidin tak hanya menggerakkan Sutomo. Seorang pelajar STOVIA yang tak lulus, Tirto Adhisuryo, juga terbakar oleh ceramah Wahidin. Bahkan Tirto sudah bergerak lebih dulu dibanding Sutomo. Pada 1906, ia mendirikan organisasi senada Budi Utomo yang bervisi jauh ke depan, Sarekat Priyayi.
Boleh dikatakan, organisasi pribumi pertama bercorak modern adalah Sarekat Priyayi. Pramoedya Ananta Toer mendaulat Sarekat Priyayi sebagai tonggak kebangkitan nasional. Ia tak setuju dengan penetapan 20 Mei 1908, tanggal lahirnya Budi Utomo, sebagai hari Kebangkitan Nasional. Bagi Pram, Budi Utomo sejak kelahirannya hingga berubah menjadi Partai Persatuan Bangsa Indonesia (PBI), tidak pernah beranjak dari statusnya sebagai organisasi kesukuan (Jawa).
Tirto Adhisuryo juga seorang tokoh pergerakan bangsa yang turut mengukir sejarah Indonesia. Ia lahir di Blora pada 1880 dan meninggal di Jakarta, 7 Desember 1918. Tirto juga pernah mengenyam pendidikan sekolah dokter di STOVIA. Di sinilah ia bertemu dr. Wahidin Sudirohusodo.
Memang, pada akhir abad ke-19, telah berdiri pula organisasi pribumi bernama Tirtayasa di Karanganyar, Jawa Barat. Organisasi itu didirikan oleh bupati Karanganyar, Tirto Kusumo. Namun, Tirtayasa tak pantas disebut organisasi, dan lebih cocok disebut paguyuban tradisional. Sebab, pendirian organisasi ini bukan karena kemauan dan kepentingan bersama, melainkan karena kewibawaan seorang bupati.
Dengan demikian, Wahidin bisa dianggap sebagai salah satu penganjur organisasi modern pertama, selain Tirto. Begitu Budi Utomo didirikan, Wahidin telah bergabung di dalamnya dan mengambil peranan yang sangat aktif. Sayang sekali, kiprahnya di Budi Utomo tak begitu mulus. Perkembangan cepat BU, terutama karena sokongan para priayi kalangan atas (pangeran dan bupati), justru mendepak Wahidin dan Sutomo agar menyingkir. Kongres ke-II BU di Jogjakarta, Desember 1908, mengalihkan kepemimpinan BU ke tangan para orangorang tua (pinisepuh).
Pendidikan
Dokter Wahidin dibesarkan pada saat rakyat sangat tertindas sebagai akibat sistem tanam paksa yang dijalankan pemerintah kolonial Belanda sejak 1830. Selain itu, jumlah sekolah sangat sedikit. Pemerintah kolonial juga melakukan diskriminasi di bidang pendidikan. Tidak semua sekolah terbuka bagi anakanak pribumi. Selain itu, kesulitan ekonomi menjadi hambatan pula. Alhasil, banyak anakanak Indonesia yang berotak yang cerdas, tapi tidak mampu membiayai sekolahnya.
Wahidin tercatat sebagai anak pribumi pertama yang diterima di Sekolah Dasar Anak Eropa (Europesche Lagere School, ELS). Meski demikian, Wahidin sendiri beruntung memasuki ELS (Europeesche Lagere School) berkat bantuan kakak iparnya, Frits Kohle, seorang Belanda. Setamat dari ELS, ia melanjutkan pendidikan ke Sekolah Dokter Jawa di Batavia (kini Jakarta). Lama pelajaran di sekolah ini hanya tiga tahun. Lulusan Sekolah Dokter Jawa belum dapat dianggap sebagai dokter dalam arti sesungguhnya, mungkin hanya sebagai pembantu dokter. Sekolah Dokter Jawa inilah yang kelak berkembang menjadi STOVIA (School tot Opleiding voor Inlandsche Arisen).
Jurnalis
Pada 1901, dr. Wahidin menjadi pemimpin redaksi majalah bernama Retnodhoemillah. Ia sering menumpahkan pikirannya melalui majalah berbahasa Jawa dan Melayu itu. Tak heran, banyak yang menyebut Wahidin sebagai jurnalis pribumi pertama.
Wahidin sangat dipengaruhi oleh dua peristiwa besar dunia. Pertama, kebangkitan gerakan Turki Muda. Kedua, pergerakan nasionalis Tiongkok. Di Hindia Belanda saat itu, orang Tionghoa dan Arab sudah mendirikan organisasi lebih dulu. Orang Tionghoa mendirikan Tiong Hoa Hwee Koan (THHK) pada 1900, sedangkan orang Arab mendirikan Sumatera Batavia Alkhairah (1902) dan Jamiatul Khair (1904).
Sementara sebangsanya, orangorang Jawa, masih tertidur pulas. Ia sendiri merasa, pekerjaannya sebagai dokter tak begitu berguna bagi kemajuan bangsanya. Bangsa ini tetap tidur dalam impian kacau tapi indah. Seorang dokter tak bisa hanya menyembuhkan luka pada badan seorang pasien, tapi juga harus menyembuhkan luka sebuah bangsa yang sedang sakit,” demikian tulis dr. Wahidin.
Wahidin, dokter yang mencintai bangsanya itu, memilih berjuang membangun sebuah organisasi modern. Ia menggunakan tabungannya selama 30 tahun untuk berkeliling pulau Jawa. Mimpinya baru separuh terwujud ketika kemudian kalangan pribumi mulai mendirikan organisasi.
Perjumpaan dengan Sutomo
Dalam buku Kenang-Kenangan yang diterbitkan pada 1934, dr. Sutomo menceritakan pertemuannya dengan dr. Wahidin pada suatu hari pada medio akhir 1907. Sutomo mengagumi citacita dr. Wahidin dan usahanya memajukan pendidikan bangsa. Berbicara dengan Wahidin, menurut Sutomo, Akan menyebabkan orang mempunyai pandangan luas dan akan merasa mempunyai kewajiban yang luhur di dunia ini.” Dalam bagian lain Sutomo menulis, Dokter Wahidin benar, sungguh benar kalau orang mengatakan bahwa kamulah yang menjadi pelopor pergerakan kita umumnya.”
Setelah menamatkan Sekolah Dokter Jawa dalam waktu hanya 22 bulan, Wahidin diangkat sebagai pembantu pengajar yang disebut assistent leeraar. Ia tetap tinggal di Jakarta dan berhak memakai gelar dokter Jawa. Selain itu ia bertugas masuk kampung keluar kampung memberikan penerangan kepada penduduk tentang kesehatan dan sekaligus memberi pengobatan seperlunya. Dalam menjalankan tugas tersebut, Wahidin dapat mengenal secara lebih mendalam keadaan rakyat yang sesungguhnya, kesengsaraan, dan penderitaan mereka. Hal itu meningkatkan rasa perikemanusiaannya, karena ia sendiri juga berasal dari rakyat kecil. Sejak bertugas sebagai dokter, ia banyak menolong rakyat. Wahidin tidak mau menerima pembayaran dari rakyat kecil yang berobat padanya.
Keadaan rakyat yang bodoh, miskin dan terbelakang itulah yang menarik perhatian Wahidin. Ia ingin sekali membantu mereka dengan jalan memberikan pendidikan dan pengajaran. Hanya dengan pendidikan dan pengajaran, demikian menurut Wahidin, kemiskinan, kebodohan dan keterbelakangan itu akan dapat dihilangkan. Dengan cara demikian, rakyat akan maju dan dengan tercapainya kemajuan, maka rakyat akan merasa diri mereka sebagai manusia yang wajar, bukan lagi manusia terjajah.
Dari Batavia, dr. Wahidin pindah ke Yogyakarta dan bekerja sebagai dokter Pakualaman. Dari Pakualaman ia memeroleh gelar Mas Ngabehi hingga nama lengkapnya menjadi Mas Ngabehi Wahidin Sudirohusodo. Selain itu pula ia tetap menjalankan praktik untuk masyarakat umum. Selama bertugas di Yogyakarta ini, dr. Wahidin mengembangkan pergaulannya dengan lingkungan yang lebih luas. Ia bersahabat bukan saja dengan orangorang Indonesia, tetapi juga dengan kalangan asing. Dengan golongan muda pun ia menjalin hubungan akrab. Para pemuda dianjurkannya agar rela berkorban demi kemajuan bangsa. Betul ia tidak mengobarkan semangat untuk merebut kemerdekaan. Tetapi dari ucapannya, Apabila kita sama-sama meludah, pasti Belanda akan tenggelam di dalam lautan ludah kita. Artinya, dr. Wahidin pun mengharapkan berakhirnya penjajahan Belanda.
Sejalan dengan keinginannya untuk memajukan pendidikan, perhatian Wahidin pun tertuju pada anakanak yang cerdas. Kepada anak-anak yang demikian, tak segan-segan ia memberikan bantuan uang untuk biaya sekolah. Salah seorang anak yang dibiayai dan kemudian menjadi anak angkatnya ialah Mulyotaruno yang kemudian berhasil menyelesaikan pendidikan di GHS (Geneeskundige Hoge School Sekolah Tinggi Kedokteran) dan karena itu berhak memakai titel dokter.
Gagasan Wahidin mengenai pendidikan, mulamula diutarakannya melalui rangkaian tulisan dalam majalah dan koran. Kemudian pada 1894, ia menerbitkan dan memimpin sendiri majalah berbahasa Jawa, Retno Dumilah (Ratna cemerlang sebagai dian penerang), yang memuat tulisantulisan mengenai kebudayaan, filsafat dan sebagainya. Penulis utamanya adalah dr. Rajiman Wedyodiningrat dan Wahidin sendiri. Majalah itu mendapat sambutan dan perhatian cukup besar di antara kaum terpelajar. Retno Dumilah disusul dengan terbitnya majalah Guru Desa—juga berbahasa Jawa. Majalah ini memuat beragam pelajaran praktis dan pengetahuan populer. Guru Desa bukanlah majalah yang memuat segala berita mengenai guru, tetapi memuat pengetahuan yang berguna untuk rakyat desa. Sasaran yang ingin dicapai Wahidin dengan majalah ini ialah untuk mencerdaskan rakyat desa yang jumlahnya sangat banyak dan masih terbelakang.
Penerbitan majalah itu merupakan tahap pertama dari perjuangan Wahidin. Pada tahap berikutnya ia berusaha mendirikan sebuah badan yang akan memberikan beasiswa bagi anakanak Indonesia yang cerdas, tetapi tidak mampu membiayai sekolahnya. Untuk keperluan mendirikan badan itulah, pada 19061907 Wahidin mengadakan perjalanan keliling tanah Jawa.
Di pelbagai tempat ia mengadakan pertemuan dengan para pembesar dan pegawai negeri dengan izin asisten residen sebagai kepala daerah setempat. Tidak semua asisten residen menyetujui maksud Wahidin. Ada yang mempersulit, ada yang menolak sama sekali, bahkan ada yang menghinanya. Sekali peristiwa, dokter tua itu harus duduk bersila dihadapan asisten residen dan berbicara bahasa Jawa halus (kromo) agar memeroleh izin mengadakan pertemuan dengan para pembesar dan pegawai negeri. Hal itu dilakukannya dengan ikhlas demi citacitanya. Asisten residen itu pun menyetujui maksudnya, bahkan memberi kesempatan Wahidin berbicara di dalam konferensi pamong praja. Usahanya ada yang berhasil, dan ada pula yang kurang berhasil. Seperti bupati Serang, Akhmad Jayadiningrat yang terkenal berani dan maju itu, menyetujui dan menyanggupi bantuan kepada dr. Wahidin. Di Bogor usahanya yang dibantu oleh Suwardi Suryaningrat (Ki Hajar Dewantara) yang waktu itu tinggal di sana, malah kurang berhasil. Mereka yang berkunjung pada pertemuannya tidak banyak justru yang banyak hadir adalah para siswa sekolah pertanian.
Dokter Wahidin berkeliling Jawa demi kepentingan masyarakat dan hari depan bangsa. Semua ongkos perjalanan ditanggungnya sendiri. Ia naik kereta api kelas tiga, menggunakan pula kendaraan kereta kuda, dan selebihnya berjalan kaki. la bermaksud mengunjungi semua keresidenan di Pulau Jawa yang berjumlah 23, namun baru sampai 17 keresidenan, ia kehabisan bekal. Ia pun terpaksa kembali ke Yogyakarta. Lalu menggadaikan rumah dan pekarangannya sebagai bekal meneruskan usahanya.
Dengan tidak memperhitungkan susah payah dan biaya yang di luar kemampuan, dr. Wahidin melanjutkan maksudnya mendirikan Badan Beasiswa. Setelah perjuangan panjang melelahkan, akhirnya ia berhasil mendirikan Badan Beasiswa bernama Darmoworo yang didirikan pada 25 Oktober 1913, bersama dengan temantemannya yang duduk di dalam pengurus, yakni, Pangeran Notodirojo dari Pakualaman, R.Ng. Dwijosewoyo, R. Sosrosugondo, keduanya dari Sekolah Guru Yogyakarta, dan R.M. Budiarjo. Pada mula berdirinya Darmoworo sudah harus membantu pembiayaan sekolah siswasiswa yang dianggap cerdas, padahal uang pun belum ada. Oleh karena itu sebagai modal permulaan, dr. Wahidin menjual 4 bendi (kereta kuda) dan 18 ekor kudanya. Semua itu ia lakukan dengan penuh keikhlasan, bahkan dengan rasa kepuasan hati. Karena citacitanya mendirikan Badan Beasiswa sudah tercapai, ia berkata, Hati saya ikhlas kalau sekarang, sewaku-waktu saya dipanggil menghadap tuhan.”
Bahtera Keluarga
Dokter Wahidin menikah dengan wanita Betawi yang bernama Anna. Perkawinannya membuahkan dua orang putera, yaitu, 1. Abdullah Subroto, pelukis terkenal; dan 2. Suleman Mangunhusodo dokter kasunan Surakarta. Cucu dr. Wahidin berjumlah 9 orang, 2 orang pria dan 7 orang wanita. Dua orang pelukis kenamaan, Sujono Abdullah dan Basuki Abdullah adalah putera Abdullah Subroto. Demikian pula seniwati-pematung, Trijotho adalah adik dua orang pelukis tersebut. Dokter Suleman Mangunhusodo, putera kedua dr. Wahidin, menurunkan 3 orang puteri, semuanya bersuamikan dokter.
Anak angkat dr. Wahidin, dr. Rajiman Wediyodinigrat, yang adalah anak dari rakyat jelata, juga kelak menjadi pembesar Republik. Ia memimpin 67 pemimpin pergerakan dalam BPUPKI dan sukses mengantarkan kemerdekaan Indonesia.
Nafas Terakhir dr.Wahidin
Wahidin Sudirohusodo, dokter Jawa yang sebagian besar usianya dihabiskan untuk membantu rakyat kecil guna meningkatkan kecerdasan mereka, khatam perjuangannya pada 26 Mei 1917 pada usia 65 tahun. Ia menghembuskan nafasnya yang terakhir di Mlati, Sleman Yogyakarta, tempat ia dulu dilahirkan. Pemerintah RI menghargai jasa yang telah disumbangkannya berdasarkan Keputusan Presiden RI No. 088/TK/Tahun 1973 tanggal 6 November 1973, dengan menetapkan dr. Wahidin Sudirohusodo sebagai Pahlawan Nasional. []
Sumber Bacaan:
http://m.merdeka.com/profil/indonesia/w/wahidin-soedirohoesodo/.
https://pustakaide.wordpress.com/2013/12/15/review-jejak-langkah-karya-pramoedya-ananta-toer/.
http://pahlawancenter.com/pahlawancenterbaru/?p=1783.
https://www.pahlawanindonesia.com/biografi-dr-wahidin-sudiro-husodo/.
Rabu, 14 September 2016
Induk Semang Pejuang Bangsa
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.