Sore hari air terjun terjatuh membasahi tanah dan Pelangi menjadi klenik-kleniknya. Nafasku yang tersedak-sedak. Dengan mata sebagai muara sang air terjun dan raga yang lemah. Ety kendaraan kesayanganku yang diamanahkan kepadaku. Dialah yang menjadi saksi dan teman hampir disertai laku hidupku. Tak ada yang patut kunilai dari sebuah coretan sang mata pena mereka. Karna yang seharusnya tak ada yang nyata dan dinyatakan.
Jadi apa dunia ini yang sebenarnya tidak ada apapun? Lalu aku ini apa? Apa ini yang bernama Rahasianya? Atau ini adalah sesuatu yang memang seharusnya tidak ku pertanyakan? Berarti didalam Allah ada dunia, didalam dunia Allah ada dunia lagi, dalam dunia ada dunia, dalam dunia ada dunia lagi, dalam dunia ada dunia, dalam dunia ada dunia lagi, dalam dunia ada dunia lagi, didalam dunia ada dunia bumi, didalam dunia bumi ada dunia diri, didalam dunia diri ada dunia lagi, dalam dunia ada dunia lagi, dalam dunia ada dunia lagi, dalam dunia ada dunia lagi, dalam dunia ada dunia lagi, dalam dunia ada dunia lagi,.....? Lalu jauh sekali bila ingin berjumpa denganNya bila memakai logika.
Jika Allah Maha Segalanya maka dunia ini hanya Allah yang ada. Semakin tak jelas juntrungannya aku ada di sini Allah tak membutuhkan apa-apa lalu aku hanya seperti permainan atau iseng-isengan Allah saja dalam hal penciptaan. Apa tugasku di dunia ini hanya sebagai penghibur Allah saja? Dan merangkap sebagai pelayan? Atau memang aku diciptakan untuk menjadi kekasihnya? Yang hanya bertugas untuk tetap setia juga mencintaiNya? Atau memang saking Allah tak ada kerjaan jadi menciptakan aku sebagai gurauan belaka? Atau bahkan hanya sebagai KoleksiNya saja? Mungkin benar atau juga salah.
Jadi tak mau apa-apa setelah perenunganku menghasilkan pertanyaan-pertanyaan seperti itu. Ternyata sangat susah jika mencintaiNya tanpa rindu. Wah sebuah seni polemik hidup. Tak ada daya maupun upaya selain berserah dan menjadikan Allah Segalanya. Termasuk sebagai guru sejati yang mampu mengajarkan segala-galanya. I Love Allah. Hanya kata itu yang terucap dan terasa baik batin maupun zohir.
11 Agustus 2015
Omah mangkat
Rahmat Rama Respati
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.