TOKOH BESAR ini lahir di Desa Mlati, Yogyakarta, pada 7 Januari 1852. Sebelum menjelma sebagai Dokter Bangsa, pria yang juga menjadi pahlawan pikiran ini sangat berbudi luhur. Meski sudah mempunyai gelar dokter, ia tetap merakyat. Tak sedikit pun ia membuat batasan dan kasta. Anak dari ayah bernama Harjosudiro, seorang pegawai kesultanan Yogyakarta ini, menganggap rakyat Indonesia harus duduk sama rendah juga tak sudi jika bangsanya diinjak-injak. Itulah alasannya untuk tetap terus berjuang tak kenal lelah. Walau darah harus menetes dan jatuh di atas Tanah Air tercintanya.
Budi Utomo
Dokter Wahidin Sudirohusodo terkenal pandai menabuh gamelan dan mencintai seni suara. Pada 1906, ia berkeliling Jawa. Mendatangi para pembesar pribumi terkemuka, agar mau menyisihkan sedikit uang mereka yang nantinya digunakan untuk menolong para pemuda yang cerdas, dan mengajak mereka membangun organisasi.
Hasilnya nihil. Ia merasa seperti pengembara berteriakteriak di tengah padang pasir ditemani dengan teriknya jiwa keputusasaan. Tak ada satu pun yang mendengar. Semua seruannya menjadi angin lalu yang berhembus ditengah gurun dengan mentalitas umum priyayi: padamnya terik kemerdekaan di dalam dada mereka.
Sampai akhir 1906, dr. Wahidin bertemu dengan para pemuda di sekolah dokter JawaSTOVIA. Ia diberi kesempatan menyampaikan gagasannya di forum Demonstrasi Demokrasi. Ia pergunakan betul panggung itu untuk menggugah semangat berorganisasi para pemuda yang baru ditemuinya.
Kali ini usaha dokter Wahidin tidak sia-sia. Beberapa pemuda tergugah: Sutomo dan dua bersaudaraGunawan Mangunkusumo dan Cipto Mangunkusumo. Suaranya yang jelas dan tenang, membuka hati dan pikiran saya. Ia membawa gagasan baru dan membuka dunia baru, melipur saya yang terluka dan sakit, tulis Sutomo dalam bukunya, Kenang-Kenangan (1943), mengisahkan pertemuan itu.
Sutomo, yang ketika itu berumur 19 tahun, langsung bergetar jiwanya. Hanya hitungan bulan setelah pertemuan itu, tepatnya 20 Mei 1908, dr. Wahidin dan kawan mudanya dari STOVIA mendirikan organisasi bernama Budi Utomo.
Tapi, ceramah dokter Wahidin tak hanya menggerakkan Sutomo. Seorang pelajar STOVIA yang tak lulus, Tirto Adhisuryo, juga terbakar oleh ceramah Wahidin. Bahkan Tirto sudah bergerak lebih dulu dibanding Sutomo. Pada 1906, ia mendirikan organisasi senada Budi Utomo yang bervisi jauh ke depan, Sarekat Priyayi.
Boleh dikatakan, organisasi pribumi pertama bercorak modern adalah Sarekat Priyayi. Pramoedya Ananta Toer mendaulat Sarekat Priyayi sebagai tonggak kebangkitan nasional. Ia tak setuju dengan penetapan 20 Mei 1908, tanggal lahirnya Budi Utomo, sebagai hari Kebangkitan Nasional. Bagi Pram, Budi Utomo sejak kelahirannya hingga berubah menjadi Partai Persatuan Bangsa Indonesia (PBI), tidak pernah beranjak dari statusnya sebagai organisasi kesukuan (Jawa).
Tirto Adhisuryo juga seorang tokoh pergerakan bangsa yang turut mengukir sejarah Indonesia. Ia lahir di Blora pada 1880 dan meninggal di Jakarta, 7 Desember 1918. Tirto juga pernah mengenyam pendidikan sekolah dokter di STOVIA. Di sinilah ia bertemu dr. Wahidin Sudirohusodo.
Memang, pada akhir abad ke-19, telah berdiri pula organisasi pribumi bernama Tirtayasa di Karanganyar, Jawa Barat. Organisasi itu didirikan oleh bupati Karanganyar, Tirto Kusumo. Namun, Tirtayasa tak pantas disebut organisasi, dan lebih cocok disebut paguyuban tradisional. Sebab, pendirian organisasi ini bukan karena kemauan dan kepentingan bersama, melainkan karena kewibawaan seorang bupati.
Dengan demikian, Wahidin bisa dianggap sebagai salah satu penganjur organisasi modern pertama, selain Tirto. Begitu Budi Utomo didirikan, Wahidin telah bergabung di dalamnya dan mengambil peranan yang sangat aktif. Sayang sekali, kiprahnya di Budi Utomo tak begitu mulus. Perkembangan cepat BU, terutama karena sokongan para priayi kalangan atas (pangeran dan bupati), justru mendepak Wahidin dan Sutomo agar menyingkir. Kongres ke-II BU di Jogjakarta, Desember 1908, mengalihkan kepemimpinan BU ke tangan para orangorang tua (pinisepuh).
Pendidikan
Dokter Wahidin dibesarkan pada saat rakyat sangat tertindas sebagai akibat sistem tanam paksa yang dijalankan pemerintah kolonial Belanda sejak 1830. Selain itu, jumlah sekolah sangat sedikit. Pemerintah kolonial juga melakukan diskriminasi di bidang pendidikan. Tidak semua sekolah terbuka bagi anakanak pribumi. Selain itu, kesulitan ekonomi menjadi hambatan pula. Alhasil, banyak anakanak Indonesia yang berotak yang cerdas, tapi tidak mampu membiayai sekolahnya.
Wahidin tercatat sebagai anak pribumi pertama yang diterima di Sekolah Dasar Anak Eropa (Europesche Lagere School, ELS). Meski demikian, Wahidin sendiri beruntung memasuki ELS (Europeesche Lagere School) berkat bantuan kakak iparnya, Frits Kohle, seorang Belanda. Setamat dari ELS, ia melanjutkan pendidikan ke Sekolah Dokter Jawa di Batavia (kini Jakarta). Lama pelajaran di sekolah ini hanya tiga tahun. Lulusan Sekolah Dokter Jawa belum dapat dianggap sebagai dokter dalam arti sesungguhnya, mungkin hanya sebagai pembantu dokter. Sekolah Dokter Jawa inilah yang kelak berkembang menjadi STOVIA (School tot Opleiding voor Inlandsche Arisen).
Jurnalis
Pada 1901, dr. Wahidin menjadi pemimpin redaksi majalah bernama Retnodhoemillah. Ia sering menumpahkan pikirannya melalui majalah berbahasa Jawa dan Melayu itu. Tak heran, banyak yang menyebut Wahidin sebagai jurnalis pribumi pertama.
Wahidin sangat dipengaruhi oleh dua peristiwa besar dunia. Pertama, kebangkitan gerakan Turki Muda. Kedua, pergerakan nasionalis Tiongkok. Di Hindia Belanda saat itu, orang Tionghoa dan Arab sudah mendirikan organisasi lebih dulu. Orang Tionghoa mendirikan Tiong Hoa Hwee Koan (THHK) pada 1900, sedangkan orang Arab mendirikan Sumatera Batavia Alkhairah (1902) dan Jamiatul Khair (1904).
Sementara sebangsanya, orangorang Jawa, masih tertidur pulas. Ia sendiri merasa, pekerjaannya sebagai dokter tak begitu berguna bagi kemajuan bangsanya. Bangsa ini tetap tidur dalam impian kacau tapi indah. Seorang dokter tak bisa hanya menyembuhkan luka pada badan seorang pasien, tapi juga harus menyembuhkan luka sebuah bangsa yang sedang sakit,” demikian tulis dr. Wahidin.
Wahidin, dokter yang mencintai bangsanya itu, memilih berjuang membangun sebuah organisasi modern. Ia menggunakan tabungannya selama 30 tahun untuk berkeliling pulau Jawa. Mimpinya baru separuh terwujud ketika kemudian kalangan pribumi mulai mendirikan organisasi.
Perjumpaan dengan Sutomo
Dalam buku Kenang-Kenangan yang diterbitkan pada 1934, dr. Sutomo menceritakan pertemuannya dengan dr. Wahidin pada suatu hari pada medio akhir 1907. Sutomo mengagumi citacita dr. Wahidin dan usahanya memajukan pendidikan bangsa. Berbicara dengan Wahidin, menurut Sutomo, Akan menyebabkan orang mempunyai pandangan luas dan akan merasa mempunyai kewajiban yang luhur di dunia ini.” Dalam bagian lain Sutomo menulis, Dokter Wahidin benar, sungguh benar kalau orang mengatakan bahwa kamulah yang menjadi pelopor pergerakan kita umumnya.”
Setelah menamatkan Sekolah Dokter Jawa dalam waktu hanya 22 bulan, Wahidin diangkat sebagai pembantu pengajar yang disebut assistent leeraar. Ia tetap tinggal di Jakarta dan berhak memakai gelar dokter Jawa. Selain itu ia bertugas masuk kampung keluar kampung memberikan penerangan kepada penduduk tentang kesehatan dan sekaligus memberi pengobatan seperlunya. Dalam menjalankan tugas tersebut, Wahidin dapat mengenal secara lebih mendalam keadaan rakyat yang sesungguhnya, kesengsaraan, dan penderitaan mereka. Hal itu meningkatkan rasa perikemanusiaannya, karena ia sendiri juga berasal dari rakyat kecil. Sejak bertugas sebagai dokter, ia banyak menolong rakyat. Wahidin tidak mau menerima pembayaran dari rakyat kecil yang berobat padanya.
Keadaan rakyat yang bodoh, miskin dan terbelakang itulah yang menarik perhatian Wahidin. Ia ingin sekali membantu mereka dengan jalan memberikan pendidikan dan pengajaran. Hanya dengan pendidikan dan pengajaran, demikian menurut Wahidin, kemiskinan, kebodohan dan keterbelakangan itu akan dapat dihilangkan. Dengan cara demikian, rakyat akan maju dan dengan tercapainya kemajuan, maka rakyat akan merasa diri mereka sebagai manusia yang wajar, bukan lagi manusia terjajah.
Dari Batavia, dr. Wahidin pindah ke Yogyakarta dan bekerja sebagai dokter Pakualaman. Dari Pakualaman ia memeroleh gelar Mas Ngabehi hingga nama lengkapnya menjadi Mas Ngabehi Wahidin Sudirohusodo. Selain itu pula ia tetap menjalankan praktik untuk masyarakat umum. Selama bertugas di Yogyakarta ini, dr. Wahidin mengembangkan pergaulannya dengan lingkungan yang lebih luas. Ia bersahabat bukan saja dengan orangorang Indonesia, tetapi juga dengan kalangan asing. Dengan golongan muda pun ia menjalin hubungan akrab. Para pemuda dianjurkannya agar rela berkorban demi kemajuan bangsa. Betul ia tidak mengobarkan semangat untuk merebut kemerdekaan. Tetapi dari ucapannya, Apabila kita sama-sama meludah, pasti Belanda akan tenggelam di dalam lautan ludah kita. Artinya, dr. Wahidin pun mengharapkan berakhirnya penjajahan Belanda.
Sejalan dengan keinginannya untuk memajukan pendidikan, perhatian Wahidin pun tertuju pada anakanak yang cerdas. Kepada anak-anak yang demikian, tak segan-segan ia memberikan bantuan uang untuk biaya sekolah. Salah seorang anak yang dibiayai dan kemudian menjadi anak angkatnya ialah Mulyotaruno yang kemudian berhasil menyelesaikan pendidikan di GHS (Geneeskundige Hoge School Sekolah Tinggi Kedokteran) dan karena itu berhak memakai titel dokter.
Gagasan Wahidin mengenai pendidikan, mulamula diutarakannya melalui rangkaian tulisan dalam majalah dan koran. Kemudian pada 1894, ia menerbitkan dan memimpin sendiri majalah berbahasa Jawa, Retno Dumilah (Ratna cemerlang sebagai dian penerang), yang memuat tulisantulisan mengenai kebudayaan, filsafat dan sebagainya. Penulis utamanya adalah dr. Rajiman Wedyodiningrat dan Wahidin sendiri. Majalah itu mendapat sambutan dan perhatian cukup besar di antara kaum terpelajar. Retno Dumilah disusul dengan terbitnya majalah Guru Desa—juga berbahasa Jawa. Majalah ini memuat beragam pelajaran praktis dan pengetahuan populer. Guru Desa bukanlah majalah yang memuat segala berita mengenai guru, tetapi memuat pengetahuan yang berguna untuk rakyat desa. Sasaran yang ingin dicapai Wahidin dengan majalah ini ialah untuk mencerdaskan rakyat desa yang jumlahnya sangat banyak dan masih terbelakang.
Penerbitan majalah itu merupakan tahap pertama dari perjuangan Wahidin. Pada tahap berikutnya ia berusaha mendirikan sebuah badan yang akan memberikan beasiswa bagi anakanak Indonesia yang cerdas, tetapi tidak mampu membiayai sekolahnya. Untuk keperluan mendirikan badan itulah, pada 19061907 Wahidin mengadakan perjalanan keliling tanah Jawa.
Di pelbagai tempat ia mengadakan pertemuan dengan para pembesar dan pegawai negeri dengan izin asisten residen sebagai kepala daerah setempat. Tidak semua asisten residen menyetujui maksud Wahidin. Ada yang mempersulit, ada yang menolak sama sekali, bahkan ada yang menghinanya. Sekali peristiwa, dokter tua itu harus duduk bersila dihadapan asisten residen dan berbicara bahasa Jawa halus (kromo) agar memeroleh izin mengadakan pertemuan dengan para pembesar dan pegawai negeri. Hal itu dilakukannya dengan ikhlas demi citacitanya. Asisten residen itu pun menyetujui maksudnya, bahkan memberi kesempatan Wahidin berbicara di dalam konferensi pamong praja. Usahanya ada yang berhasil, dan ada pula yang kurang berhasil. Seperti bupati Serang, Akhmad Jayadiningrat yang terkenal berani dan maju itu, menyetujui dan menyanggupi bantuan kepada dr. Wahidin. Di Bogor usahanya yang dibantu oleh Suwardi Suryaningrat (Ki Hajar Dewantara) yang waktu itu tinggal di sana, malah kurang berhasil. Mereka yang berkunjung pada pertemuannya tidak banyak justru yang banyak hadir adalah para siswa sekolah pertanian.
Dokter Wahidin berkeliling Jawa demi kepentingan masyarakat dan hari depan bangsa. Semua ongkos perjalanan ditanggungnya sendiri. Ia naik kereta api kelas tiga, menggunakan pula kendaraan kereta kuda, dan selebihnya berjalan kaki. la bermaksud mengunjungi semua keresidenan di Pulau Jawa yang berjumlah 23, namun baru sampai 17 keresidenan, ia kehabisan bekal. Ia pun terpaksa kembali ke Yogyakarta. Lalu menggadaikan rumah dan pekarangannya sebagai bekal meneruskan usahanya.
Dengan tidak memperhitungkan susah payah dan biaya yang di luar kemampuan, dr. Wahidin melanjutkan maksudnya mendirikan Badan Beasiswa. Setelah perjuangan panjang melelahkan, akhirnya ia berhasil mendirikan Badan Beasiswa bernama Darmoworo yang didirikan pada 25 Oktober 1913, bersama dengan temantemannya yang duduk di dalam pengurus, yakni, Pangeran Notodirojo dari Pakualaman, R.Ng. Dwijosewoyo, R. Sosrosugondo, keduanya dari Sekolah Guru Yogyakarta, dan R.M. Budiarjo. Pada mula berdirinya Darmoworo sudah harus membantu pembiayaan sekolah siswasiswa yang dianggap cerdas, padahal uang pun belum ada. Oleh karena itu sebagai modal permulaan, dr. Wahidin menjual 4 bendi (kereta kuda) dan 18 ekor kudanya. Semua itu ia lakukan dengan penuh keikhlasan, bahkan dengan rasa kepuasan hati. Karena citacitanya mendirikan Badan Beasiswa sudah tercapai, ia berkata, Hati saya ikhlas kalau sekarang, sewaku-waktu saya dipanggil menghadap tuhan.”
Bahtera Keluarga
Dokter Wahidin menikah dengan wanita Betawi yang bernama Anna. Perkawinannya membuahkan dua orang putera, yaitu, 1. Abdullah Subroto, pelukis terkenal; dan 2. Suleman Mangunhusodo dokter kasunan Surakarta. Cucu dr. Wahidin berjumlah 9 orang, 2 orang pria dan 7 orang wanita. Dua orang pelukis kenamaan, Sujono Abdullah dan Basuki Abdullah adalah putera Abdullah Subroto. Demikian pula seniwati-pematung, Trijotho adalah adik dua orang pelukis tersebut. Dokter Suleman Mangunhusodo, putera kedua dr. Wahidin, menurunkan 3 orang puteri, semuanya bersuamikan dokter.
Anak angkat dr. Wahidin, dr. Rajiman Wediyodinigrat, yang adalah anak dari rakyat jelata, juga kelak menjadi pembesar Republik. Ia memimpin 67 pemimpin pergerakan dalam BPUPKI dan sukses mengantarkan kemerdekaan Indonesia.
Nafas Terakhir dr.Wahidin
Wahidin Sudirohusodo, dokter Jawa yang sebagian besar usianya dihabiskan untuk membantu rakyat kecil guna meningkatkan kecerdasan mereka, khatam perjuangannya pada 26 Mei 1917 pada usia 65 tahun. Ia menghembuskan nafasnya yang terakhir di Mlati, Sleman Yogyakarta, tempat ia dulu dilahirkan. Pemerintah RI menghargai jasa yang telah disumbangkannya berdasarkan Keputusan Presiden RI No. 088/TK/Tahun 1973 tanggal 6 November 1973, dengan menetapkan dr. Wahidin Sudirohusodo sebagai Pahlawan Nasional. []
Sumber Bacaan:
http://m.merdeka.com/profil/indonesia/w/wahidin-soedirohoesodo/.
https://pustakaide.wordpress.com/2013/12/15/review-jejak-langkah-karya-pramoedya-ananta-toer/.
http://pahlawancenter.com/pahlawancenterbaru/?p=1783.
https://www.pahlawanindonesia.com/biografi-dr-wahidin-sudiro-husodo/.
Pertunjukan Alam Semesta
Saya seorang aktor.
Rabu, 14 September 2016
Induk Semang Pejuang Bangsa
Selasa, 19 Januari 2016
Sebuah pertanyaan yang menghasilkan pertanyaan
Sore hari air terjun terjatuh membasahi tanah dan Pelangi menjadi klenik-kleniknya. Nafasku yang tersedak-sedak. Dengan mata sebagai muara sang air terjun dan raga yang lemah. Ety kendaraan kesayanganku yang diamanahkan kepadaku. Dialah yang menjadi saksi dan teman hampir disertai laku hidupku. Tak ada yang patut kunilai dari sebuah coretan sang mata pena mereka. Karna yang seharusnya tak ada yang nyata dan dinyatakan.
Jadi apa dunia ini yang sebenarnya tidak ada apapun? Lalu aku ini apa? Apa ini yang bernama Rahasianya? Atau ini adalah sesuatu yang memang seharusnya tidak ku pertanyakan? Berarti didalam Allah ada dunia, didalam dunia Allah ada dunia lagi, dalam dunia ada dunia, dalam dunia ada dunia lagi, dalam dunia ada dunia, dalam dunia ada dunia lagi, dalam dunia ada dunia lagi, didalam dunia ada dunia bumi, didalam dunia bumi ada dunia diri, didalam dunia diri ada dunia lagi, dalam dunia ada dunia lagi, dalam dunia ada dunia lagi, dalam dunia ada dunia lagi, dalam dunia ada dunia lagi, dalam dunia ada dunia lagi,.....? Lalu jauh sekali bila ingin berjumpa denganNya bila memakai logika.
Jika Allah Maha Segalanya maka dunia ini hanya Allah yang ada. Semakin tak jelas juntrungannya aku ada di sini Allah tak membutuhkan apa-apa lalu aku hanya seperti permainan atau iseng-isengan Allah saja dalam hal penciptaan. Apa tugasku di dunia ini hanya sebagai penghibur Allah saja? Dan merangkap sebagai pelayan? Atau memang aku diciptakan untuk menjadi kekasihnya? Yang hanya bertugas untuk tetap setia juga mencintaiNya? Atau memang saking Allah tak ada kerjaan jadi menciptakan aku sebagai gurauan belaka? Atau bahkan hanya sebagai KoleksiNya saja? Mungkin benar atau juga salah.
Jadi tak mau apa-apa setelah perenunganku menghasilkan pertanyaan-pertanyaan seperti itu. Ternyata sangat susah jika mencintaiNya tanpa rindu. Wah sebuah seni polemik hidup. Tak ada daya maupun upaya selain berserah dan menjadikan Allah Segalanya. Termasuk sebagai guru sejati yang mampu mengajarkan segala-galanya. I Love Allah. Hanya kata itu yang terucap dan terasa baik batin maupun zohir.
11 Agustus 2015
Omah mangkat
Rahmat Rama Respati
Perjalanan diri
Gelora batin yang meledak-ledak kurasa. Saat ku mendapatkan daun yang membuatku senang yaitu soan ke para Aulia atau aku sering menyebutnya dengan para kekasih Allah. Malam itu kami berangkat dengan mobil senia sebagai salah satu saksi bisa perjalanan kami. Awalnya aku menuangkan kami akan ke Pandeglang Banten ternyata tidak, kami menuju ke Tasikmalaya untuk ke daerah Pamijahan mengunjungi Abdullah Muhi salah satu Wali Allah. Senang dan malu kurasa berambut aduk menjadi satu. Mobil senia yang kami tumpangi terus melaju memasuki tol menuju Bandung.
Seperti biasa aku duduk di bangku belakang bersama salah satu temanku bernama Farhan.
Didalam mobil kami bermain tebak-tebakan farhan akan membawa mobil pada saat di daerah mana. Farhan berkata sebelum sampai Bandung Ram. Aku berkata kurang jelas Han tapi menurutku kamu membawa mobilnya masih di dalam Tol. Ternyata tebakanku benar saudara ustadz Yusufpun mundur ke bangku Tengah untuk istirahat. Akhirnya Farhan maju untuk menjajahkan kemahirannya membawa mobil.
Saat sedang beristirahat di kilometer 88 ustadz Fendi berkata kepadaku Ram menurutku disana ada goa atau tidak? Dan kalau ada kita masuk atau tidak? Lalu aku menjawab ada ustadz dan fillingku kita akan masuk. Dan setelah farhan bersiap membangun kemudi mobil senia itu kami melanjutkan perjalanan lagi. Diperjalanan sudah ku tahan-tahan untuk tidak tidur namun tetap saja kebablasan tidur. Sebangunnya ku dari istirahat ternyata masih ditol tetapi sudah sampai di purbaleunyi. Sampai di tempat peristirahat berikutnya aku berhasil tidak tidur. Di tempat itu sungguh dahsyat tahu isinya yang hangat karena baru selesai di goreng dan secangkir teh tawar hangat.
Memanjakan perusahaan aku karna udaranya yang dingin membuat ingin menghangatkan tubuh. Padahal belum sampai kami di Pamijahan kami sudah diberikan nikmat yang amat luar biasa bisa ngopi, makan tahu, ada yang makan nasi dengan sayur dan lauk paus dan bisa melihat anak perempuan yang masih kelas 4,5,6 SD menunggu gurunya yang sedang membuat mie goreng untuk pisanan kami saat kami sudah sampai di daerah parung kedondong.
Sebangunnya aku melihat anak-anak kecil itu tersenyum. Senyuman yang manis itu membuatku bahagia. Ternyata Allah memberikan nikmati dari segala sisi dan dari segala ruang. Terima kasih ya Allah.
Setelah aku selesai memakan mie goreng aku bersuci mengambil air wudhu di Masjid dekat warung itu. Saat aku mengambil wudhu ternyata ada ketidak laziman yang aku lihat. Aku melihat tulisan di dinding tempat air wudhu itu tertulis "baca lupa". Wah apa mungkin ini teguran kepadaku karna aku sering lupa?
Sesuai aku bersuci kami melanjutkan memberi kesempatan kembali untuk mobil senia untuk berjalan menyusuri jalan raya. Matahari terbit di ufuk Barat ternyata saat matahari terbit kami disajikan kembali nikmat pesenan alam yang luar bisa indah oleh Allah sang Maha Indah. Sesampainya kami di pamijahan kami berjalan menyusuri beberapa anak tangga yang harus kami lewati untuk mencapai maqbarah Aulia Syekh Abdullah Muhi.
Dan ada adat istiadat yang dibentuk oleh Syekh Abdullah Muhi yaitu dilarang merokok jadi ada daerah dimana dilarang merokok. Alasan dilarang merokok karna saat Syekh Abdullah Muhi melakukan perjalanan menuju Makah lewat goa tempat beliau meningkatkan kewaliannya beliau mencoba merokok namun yang terjadi beliau hanya melihat kabut jadi biasanya beliau sampai di Makah lebih dulu dibandingkan dengan Syekh yang lain pada saat itu beliaulah yang terlibat sampai ke Makah. Dari alasan itulah beliau menurunkan dauh kepada masyarakat pamijahan agar tidak merokok.
Sampailah kami di Maqbarah beliau sebelum kami menaiki anak tangga kami bersuci dahulu berubah kami naik untuk sampai di maqbarah Syekh Abdullah Muhi. Sesampainya kami disana sebelum masuk kami diberikan ilmu soan oleh Bang Reno Akhir pemimpin soan kami. Setelah diberikan ilmu kami salam dan mencium tangan penjara maqbarah. Lalu di tunjukkanlah kami harus duduk dimana oleh beliau. Setelah itu kami melakukan soan masing-masing. Entah mengapa saat aku soan aku mendengar suara yang aneh suara yang berkata kamu adalah pemuda Indonesia yang berbeda dengan pemuda kebanyakan. Tetapi mau sampai kapan kamu tidak beranak? Memang kamu pikir kamu sudah sampai? Belum masih jauh perjalananmu untuk bisa sampai pada tujuan yang akan kamu tuju.
Baik memang segala pencapaian yang sudah kamu capai, tetapi itu masihlah sangat kurang untuk bisa sampai ke tujuanmu. Tiba-tiba air mataku terjatuh dan akupun menangisi tersendu-sendu namun lirik. Hanya kata maaf
Syekh Abdullah Muhi aku benar-benar minta maaf baru sadar akan kekurangan yang tidak aku lihat. Dan terimakasih sudah disadarkan. Setelah itu aku mencium wangi yang semerbak menabrak hidungku. Setelah itu kami keluar maqbarah lalu berfoto-foto dahulu baru melanjutkan perjalanan menuju goa tempat pertapan Syekh Abdullah Muhi. Di perjalanan kami menuju goa tempat pertapan Syekh Abdullah Muhi, kami dipimpin oleh salah satu warga bapak-bapak Pamijahan. Kami dituntun beliau dengan membawa lampu pijar.
Sampailah kami di gerbang goa pertapan Syekh Abdullah Muhi. Sebelum kami memasuki goa kami dipimpin oleh bapak-bapak warga setempat yang mendampingi kami untuk membaca shalawat Nabi. Sepanjang perjalanan, mata kami dimanjakan dengan pemandangan goa yang luar biasa indah. Selain mata kami yang dimanjakan aku merasakan kerinduan, kenyamanan, dan rasa yang lain yang sulit ku utarakan. Kami ke tempat dimana Syekh Abdullah Muhi berkumpul dengan murid-muridnya untuk menjadi hamba Allah.
Kami mencoba untuk duduk meditasi sesaat. Setelah itu kami melanjutkan perjalanan ke tempat mata air yang selalu digunakan Syekh Abdullah Muhi untuk berwudhu. Setelah kami memakan airnya lalu kami ke tempat yang biasa Syekh Abdullah Muhi gunakan sebagai tempat adzan juga khotbah. Kami tak lupa mengabadikan momen kami di tempat adzan dan khotbah.
Tak jauh dari sana terdapat pintu menuju Makah. Konon ceritanya Syekh Abdullah Muhi pergi ke Makah untuk berkumpul dengan wali Allah yang lainnya. Tak jauh lagi kami di tunjukkan bentuk lubang peci yang terdapat dilindungi atas kepala kami. Lalu kami mencobanya. Setelah itu kami ditunjukkan oleh Sang bapak tempat untuk menaruh kitab-kitab. Sesuai kami mendatangi tempat-tempat yang pernah Syekh Abdullah Muhi tempati kami mengambil air berkahnya. Setelah itu kami mengambil wudhu di air pancuran yang lain. Setelah itu kami memutuskan untuk keluar dari goa dan melanjutkan perjalanan menuju maqbarah Abah Anom daerah Suryalaya.
Sebelum sampai di Suryalaya kami disambut oleh hujan diberikan rezki air yang berpisah oleh Sang Maha Baik. Di perjalanan kami sempat mampir dahulu di bakso Echo di daerah Tasikmalaya. Hidangan rejeki yang nikmat sekali diberikan Sang Maha Pemberi Rejeki.Rasa syukur ku tiada henti terus berkumandang kepadaNya. Sesuai makan bakso Echo kami melanjutkan perjalanan ke maqbarah Abah Anom. Im comming Abah Anom... Rasa bahagia dan rasa malu baru belajar.
Sesampainya kami di Abah Anom kami disambut oleh wewangingan yang entah dari mana sumbernya. Kami memercayai itu Abah Anom yang datang menyambut kami. Disiram batin akan kerinduan juga malu mewarnaiku. Entah apa yang harus kulakukan. Kami menunggu salah satu teman kami untuk meminta ijin agar pintu ruangan maqbarah Abah Anom dapat dibuka. Sambil kami menunggu aku masih menempelkan hidungku disela-sela jendhéla untuk terus mencium wangi dari kehadiran Abah Anom. Setelah teman kami datang kami mendapat informasi bahwa pintu maqbarah dibuka pada saat-saat tertentu saja.
Akhirnya kami pun tidak memaksakan untuk bisa masuk kedalam maqbarahnya. Bang Reno memutuskan untuk duduk disamping maqbarah. Setelah itu kami mulai untuk soan. Dahsyat sekali frekuensi disana. Tiba-tiba entah kenapa aku menemukan air mata. Lalu setelah air mata itu terjatuh aku mengalami kehilangan kesadaran aku seperti berada dalam ruangan tanpa batas dan gelap. Dari kejadian muncullah barisan beberapa orang yang menggunakan jubah putih dengan sorban yang ada di kepala. Lalu mereka membentuk barisan atau saben yang lurus menhadapku. Dari Tengah-tengah barisan itu muncullah cahaya putih.
Awalnya hanya sebuah titik namun dari titik itu berubah menjadi bentuk orang. Tubuhku mulai tidak bisa ku gerakan. Dan anehnya lagi ternyata diriku terbelah utuh menjadi dua. Tetapi tubuhku yang lainnya transparan dan mempunyai cahaya putih dan biru. Aku memperhatikannya. Tubuhku itu berjalan mendatangi cahaya putih itu. Setelah itu tubuhku terjatuh dan berbicara maaf dan terimakasih kepada cahaya itu. Lalu cahaya itu memegang pundakku dan membangunkanku.
Setelah aku bangun cahaya itu memelukku.
Tiba-tiba lagi aku menangisi tersendu-sendu dan diwaktu yang sama aku yang lain juga menangisi tersendu-sendu. Kemudian aku yang sedang dipeluk cahaya itu berganti menangis. Saat berganti menangis cahaya itu berbicara sudah kembalilah dan teruslah berjalan di jalan ini. Aku menganggukkan kepadaku dan aku berjalan menuju aku yang lain. Setelah berhadapan aku berjalan tangan dengan aku yang lain dan meminta maaf juga berterimakasih kemudian aku memeluk aku yang lain. Saat aku memeluk aku yang lain semua seperti berputar-putar, seperti bumi ini berputar sangat kencang hingga isi yang ada di dalam bumi juga ikut berputar-putar.
Saat sedang berputar-putar aku seperti tersedot oleh gelombang yang menyakitkan yang ada di belakangku. Semua menjadi gelap. Saat aku membuka mataku ternyata aku sedang duduk bersimpuh di tempat ku berada. Wah satu pengalaman yang baru sangat dahsyat. Soan kami semua duduk terdiam sejenak. Setelah itu kami tetap berfoto-foto dan setelah itu kami pamit menuju kota Depok. Ya begitulah cerita kali ini yang ku rasakan. Sujud syukurku panjatkan kepada Gusti Allah SWT.
Terimakasih dan mohon maaf.
Pamijahan dan Suryalaya 7 November 2015
Rahmat Rama Respati