Selasa, 19 Januari 2016

Perjalanan diri

Gelora batin yang meledak-ledak kurasa. Saat ku mendapatkan daun yang membuatku senang yaitu soan ke para Aulia atau aku sering menyebutnya dengan para kekasih Allah. Malam itu kami berangkat dengan mobil senia sebagai salah satu saksi bisa perjalanan kami. Awalnya aku menuangkan kami akan ke Pandeglang Banten ternyata tidak, kami menuju ke Tasikmalaya untuk ke daerah Pamijahan mengunjungi Abdullah Muhi salah satu Wali Allah. Senang dan malu kurasa berambut aduk menjadi satu. Mobil senia yang kami tumpangi terus melaju memasuki tol menuju Bandung.
Seperti biasa aku duduk di bangku belakang bersama salah satu temanku bernama Farhan.

Didalam mobil kami bermain tebak-tebakan farhan akan membawa mobil pada saat di daerah mana. Farhan berkata sebelum sampai Bandung Ram. Aku berkata kurang jelas Han tapi menurutku kamu membawa mobilnya masih di dalam Tol. Ternyata tebakanku benar saudara ustadz Yusufpun mundur ke bangku Tengah untuk istirahat. Akhirnya Farhan maju untuk menjajahkan kemahirannya membawa mobil.

Saat sedang beristirahat di kilometer 88 ustadz Fendi berkata kepadaku Ram menurutku disana ada goa atau tidak? Dan kalau ada kita masuk atau tidak? Lalu aku menjawab ada ustadz dan fillingku kita akan masuk. Dan setelah farhan bersiap membangun kemudi mobil senia itu kami melanjutkan perjalanan lagi. Diperjalanan sudah ku tahan-tahan untuk tidak tidur namun tetap saja kebablasan tidur. Sebangunnya ku dari istirahat ternyata masih ditol tetapi sudah sampai di purbaleunyi. Sampai di tempat peristirahat berikutnya aku berhasil tidak tidur. Di tempat itu sungguh dahsyat tahu isinya yang hangat karena baru selesai di goreng dan secangkir teh tawar hangat.

Memanjakan perusahaan aku karna udaranya yang dingin membuat ingin menghangatkan tubuh. Padahal belum sampai kami di Pamijahan kami sudah diberikan nikmat yang amat luar biasa bisa ngopi, makan tahu, ada yang makan nasi dengan sayur dan lauk paus dan bisa melihat anak perempuan yang masih kelas 4,5,6 SD menunggu gurunya yang sedang membuat mie goreng untuk pisanan kami saat kami sudah sampai di daerah parung kedondong.

Sebangunnya aku melihat anak-anak kecil itu tersenyum. Senyuman yang manis itu membuatku bahagia. Ternyata Allah memberikan nikmati dari segala sisi dan dari segala ruang. Terima kasih ya Allah.

Setelah aku selesai memakan mie goreng aku bersuci mengambil air wudhu di Masjid dekat warung itu. Saat aku mengambil wudhu ternyata ada ketidak laziman yang aku lihat. Aku melihat tulisan di dinding tempat air wudhu itu tertulis "baca lupa". Wah apa mungkin ini teguran kepadaku karna aku sering lupa?

Sesuai aku bersuci kami melanjutkan memberi kesempatan kembali untuk mobil senia untuk berjalan menyusuri jalan raya. Matahari terbit di ufuk Barat ternyata saat matahari terbit kami disajikan kembali nikmat pesenan alam yang luar bisa indah oleh Allah sang Maha Indah. Sesampainya kami di pamijahan kami berjalan menyusuri beberapa anak tangga yang harus kami lewati untuk mencapai maqbarah Aulia Syekh Abdullah Muhi.

Dan ada adat istiadat yang dibentuk oleh Syekh Abdullah Muhi yaitu dilarang merokok jadi ada daerah dimana dilarang merokok. Alasan dilarang merokok karna saat Syekh Abdullah Muhi melakukan perjalanan menuju Makah lewat goa tempat beliau meningkatkan kewaliannya beliau mencoba merokok namun yang terjadi beliau hanya melihat kabut jadi biasanya beliau sampai di Makah lebih dulu dibandingkan dengan Syekh yang lain pada saat itu beliaulah yang terlibat sampai ke Makah. Dari alasan itulah beliau menurunkan dauh kepada masyarakat pamijahan agar tidak merokok.

Sampailah kami di Maqbarah beliau sebelum kami menaiki anak tangga kami bersuci dahulu berubah kami naik untuk sampai di maqbarah Syekh Abdullah Muhi. Sesampainya kami disana sebelum masuk kami diberikan ilmu soan oleh Bang Reno Akhir pemimpin soan kami. Setelah diberikan ilmu kami salam dan mencium tangan penjara maqbarah. Lalu di tunjukkanlah kami harus duduk dimana oleh beliau. Setelah itu kami melakukan soan masing-masing. Entah mengapa saat aku soan aku mendengar suara yang aneh suara yang berkata kamu adalah pemuda Indonesia yang berbeda dengan pemuda kebanyakan. Tetapi mau sampai kapan kamu tidak beranak? Memang kamu pikir kamu sudah sampai? Belum masih jauh perjalananmu untuk bisa sampai pada tujuan yang akan kamu tuju.

Baik memang segala pencapaian yang sudah kamu capai, tetapi itu masihlah sangat kurang untuk bisa sampai ke tujuanmu. Tiba-tiba air mataku terjatuh dan akupun menangisi tersendu-sendu namun lirik. Hanya kata maaf
Syekh Abdullah Muhi aku benar-benar minta maaf baru sadar akan kekurangan yang tidak aku lihat. Dan terimakasih sudah disadarkan. Setelah itu aku mencium wangi yang semerbak menabrak hidungku. Setelah itu kami keluar maqbarah lalu berfoto-foto dahulu baru melanjutkan perjalanan menuju goa tempat pertapan Syekh Abdullah Muhi. Di perjalanan kami menuju goa tempat pertapan Syekh Abdullah Muhi, kami dipimpin oleh salah satu warga bapak-bapak Pamijahan. Kami dituntun beliau dengan membawa lampu pijar.

Sampailah kami di gerbang goa pertapan Syekh Abdullah Muhi. Sebelum kami memasuki goa kami dipimpin oleh bapak-bapak warga setempat yang mendampingi kami untuk membaca shalawat Nabi. Sepanjang perjalanan, mata kami dimanjakan dengan pemandangan goa yang luar biasa indah. Selain mata kami yang dimanjakan aku merasakan kerinduan, kenyamanan, dan rasa yang lain yang sulit ku utarakan. Kami ke tempat dimana Syekh Abdullah Muhi berkumpul dengan murid-muridnya untuk menjadi hamba Allah.

Kami mencoba untuk duduk meditasi sesaat. Setelah itu kami melanjutkan perjalanan ke tempat mata air yang selalu digunakan Syekh Abdullah Muhi untuk berwudhu. Setelah kami memakan airnya lalu kami ke tempat yang biasa Syekh Abdullah Muhi gunakan sebagai tempat adzan juga khotbah. Kami tak lupa mengabadikan momen kami di tempat adzan dan khotbah.

Tak jauh dari sana terdapat pintu menuju Makah. Konon ceritanya Syekh Abdullah Muhi pergi ke Makah untuk berkumpul dengan wali Allah yang lainnya. Tak jauh lagi kami di tunjukkan bentuk lubang peci yang terdapat dilindungi atas kepala kami. Lalu kami mencobanya. Setelah itu kami ditunjukkan oleh Sang bapak tempat untuk menaruh kitab-kitab. Sesuai kami mendatangi tempat-tempat yang pernah Syekh Abdullah Muhi tempati kami mengambil air berkahnya. Setelah itu kami mengambil wudhu di air pancuran yang lain. Setelah itu kami memutuskan untuk keluar dari goa dan melanjutkan perjalanan menuju maqbarah Abah Anom daerah Suryalaya.

Sebelum sampai di Suryalaya kami disambut oleh hujan diberikan rezki air yang berpisah oleh Sang Maha Baik. Di perjalanan kami sempat mampir dahulu di bakso Echo di daerah Tasikmalaya. Hidangan rejeki yang nikmat sekali diberikan Sang Maha Pemberi Rejeki.Rasa syukur ku tiada henti terus berkumandang kepadaNya. Sesuai makan bakso Echo kami melanjutkan perjalanan ke maqbarah Abah Anom. Im comming Abah Anom... Rasa bahagia dan rasa malu baru belajar.

Sesampainya kami di Abah Anom kami disambut oleh wewangingan yang entah dari mana sumbernya. Kami memercayai itu Abah Anom yang datang menyambut kami. Disiram batin akan kerinduan juga malu mewarnaiku. Entah apa yang harus kulakukan. Kami menunggu salah satu teman kami untuk meminta ijin agar pintu ruangan maqbarah Abah Anom dapat dibuka. Sambil kami menunggu aku masih menempelkan hidungku disela-sela jendhéla untuk terus mencium wangi dari kehadiran Abah Anom. Setelah teman kami datang kami mendapat informasi bahwa pintu maqbarah dibuka pada saat-saat tertentu saja.

Akhirnya kami pun tidak memaksakan untuk bisa masuk kedalam maqbarahnya. Bang Reno memutuskan untuk duduk disamping maqbarah. Setelah itu kami mulai untuk soan. Dahsyat sekali frekuensi disana. Tiba-tiba entah kenapa aku menemukan air mata. Lalu setelah air mata itu terjatuh aku mengalami kehilangan kesadaran aku seperti berada dalam ruangan tanpa batas dan gelap. Dari kejadian muncullah barisan beberapa orang yang menggunakan jubah putih dengan sorban yang ada di kepala. Lalu mereka membentuk barisan atau saben yang lurus menhadapku. Dari Tengah-tengah barisan itu muncullah cahaya putih.

Awalnya hanya sebuah titik namun dari titik itu berubah menjadi bentuk orang. Tubuhku mulai tidak bisa ku gerakan. Dan anehnya lagi ternyata diriku terbelah utuh menjadi dua. Tetapi tubuhku yang lainnya transparan dan mempunyai cahaya putih dan biru. Aku memperhatikannya. Tubuhku itu berjalan mendatangi cahaya putih itu. Setelah itu tubuhku terjatuh dan berbicara maaf dan terimakasih kepada cahaya itu. Lalu cahaya itu memegang pundakku dan membangunkanku.

Setelah aku bangun cahaya itu memelukku.
Tiba-tiba lagi aku menangisi tersendu-sendu dan diwaktu yang sama aku yang lain juga menangisi tersendu-sendu. Kemudian aku yang sedang dipeluk cahaya itu berganti menangis. Saat berganti menangis cahaya itu berbicara sudah kembalilah dan teruslah berjalan di jalan ini. Aku menganggukkan kepadaku dan aku berjalan menuju aku yang lain. Setelah berhadapan aku berjalan tangan dengan aku yang lain dan meminta maaf juga berterimakasih kemudian aku memeluk aku yang lain. Saat aku memeluk aku yang lain semua seperti berputar-putar, seperti bumi ini berputar sangat kencang hingga isi yang ada di dalam bumi juga ikut berputar-putar.

Saat sedang berputar-putar aku seperti tersedot oleh gelombang yang menyakitkan yang ada di belakangku. Semua menjadi gelap. Saat aku membuka mataku ternyata aku sedang duduk bersimpuh di tempat ku berada. Wah satu pengalaman yang baru sangat dahsyat. Soan kami semua duduk terdiam sejenak. Setelah itu kami tetap berfoto-foto dan setelah itu kami pamit menuju kota Depok. Ya begitulah cerita kali ini yang ku rasakan. Sujud syukurku panjatkan kepada Gusti Allah SWT.

Terimakasih dan mohon maaf.
Pamijahan dan Suryalaya 7 November 2015
Rahmat Rama Respati

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.