Selasa, 19 Januari 2016

Sebuah pertanyaan yang menghasilkan pertanyaan

Sore hari air terjun terjatuh membasahi tanah dan Pelangi menjadi klenik-kleniknya. Nafasku yang tersedak-sedak. Dengan mata sebagai muara sang air terjun dan raga yang lemah. Ety kendaraan kesayanganku yang diamanahkan kepadaku. Dialah yang menjadi saksi dan teman hampir disertai laku hidupku. Tak ada yang patut kunilai dari sebuah coretan sang mata pena mereka. Karna yang seharusnya tak ada yang nyata dan dinyatakan.

Jadi apa dunia ini yang sebenarnya tidak ada apapun? Lalu aku ini apa? Apa ini yang bernama Rahasianya? Atau ini adalah sesuatu yang memang seharusnya tidak ku pertanyakan? Berarti didalam Allah ada dunia, didalam dunia Allah ada dunia lagi, dalam dunia ada dunia, dalam dunia ada dunia lagi, dalam dunia ada dunia, dalam dunia ada dunia lagi, dalam dunia ada dunia lagi, didalam dunia ada dunia bumi, didalam dunia bumi ada dunia diri, didalam dunia diri ada dunia lagi, dalam dunia ada dunia lagi, dalam dunia ada dunia lagi, dalam dunia ada dunia lagi, dalam dunia ada dunia lagi, dalam dunia ada dunia lagi,.....? Lalu jauh sekali bila ingin berjumpa denganNya bila memakai logika.

Jika Allah Maha Segalanya maka dunia ini hanya Allah yang ada. Semakin tak jelas juntrungannya aku ada di sini Allah tak membutuhkan apa-apa lalu aku hanya seperti permainan atau iseng-isengan Allah saja dalam hal penciptaan. Apa tugasku di dunia ini hanya sebagai penghibur Allah saja? Dan merangkap sebagai pelayan? Atau memang aku diciptakan untuk menjadi kekasihnya? Yang hanya bertugas untuk tetap setia juga mencintaiNya? Atau memang saking Allah tak ada kerjaan jadi menciptakan aku sebagai gurauan belaka? Atau bahkan hanya sebagai KoleksiNya saja? Mungkin benar atau juga salah.

Jadi tak mau apa-apa setelah perenunganku menghasilkan pertanyaan-pertanyaan seperti itu. Ternyata sangat susah jika mencintaiNya tanpa rindu. Wah sebuah seni polemik hidup. Tak ada daya maupun upaya selain berserah dan menjadikan Allah Segalanya. Termasuk sebagai guru sejati yang mampu mengajarkan segala-galanya. I Love Allah. Hanya kata itu yang terucap dan terasa baik batin maupun zohir.

11 Agustus 2015
Omah mangkat
Rahmat Rama Respati

Perjalanan diri

Gelora batin yang meledak-ledak kurasa. Saat ku mendapatkan daun yang membuatku senang yaitu soan ke para Aulia atau aku sering menyebutnya dengan para kekasih Allah. Malam itu kami berangkat dengan mobil senia sebagai salah satu saksi bisa perjalanan kami. Awalnya aku menuangkan kami akan ke Pandeglang Banten ternyata tidak, kami menuju ke Tasikmalaya untuk ke daerah Pamijahan mengunjungi Abdullah Muhi salah satu Wali Allah. Senang dan malu kurasa berambut aduk menjadi satu. Mobil senia yang kami tumpangi terus melaju memasuki tol menuju Bandung.
Seperti biasa aku duduk di bangku belakang bersama salah satu temanku bernama Farhan.

Didalam mobil kami bermain tebak-tebakan farhan akan membawa mobil pada saat di daerah mana. Farhan berkata sebelum sampai Bandung Ram. Aku berkata kurang jelas Han tapi menurutku kamu membawa mobilnya masih di dalam Tol. Ternyata tebakanku benar saudara ustadz Yusufpun mundur ke bangku Tengah untuk istirahat. Akhirnya Farhan maju untuk menjajahkan kemahirannya membawa mobil.

Saat sedang beristirahat di kilometer 88 ustadz Fendi berkata kepadaku Ram menurutku disana ada goa atau tidak? Dan kalau ada kita masuk atau tidak? Lalu aku menjawab ada ustadz dan fillingku kita akan masuk. Dan setelah farhan bersiap membangun kemudi mobil senia itu kami melanjutkan perjalanan lagi. Diperjalanan sudah ku tahan-tahan untuk tidak tidur namun tetap saja kebablasan tidur. Sebangunnya ku dari istirahat ternyata masih ditol tetapi sudah sampai di purbaleunyi. Sampai di tempat peristirahat berikutnya aku berhasil tidak tidur. Di tempat itu sungguh dahsyat tahu isinya yang hangat karena baru selesai di goreng dan secangkir teh tawar hangat.

Memanjakan perusahaan aku karna udaranya yang dingin membuat ingin menghangatkan tubuh. Padahal belum sampai kami di Pamijahan kami sudah diberikan nikmat yang amat luar biasa bisa ngopi, makan tahu, ada yang makan nasi dengan sayur dan lauk paus dan bisa melihat anak perempuan yang masih kelas 4,5,6 SD menunggu gurunya yang sedang membuat mie goreng untuk pisanan kami saat kami sudah sampai di daerah parung kedondong.

Sebangunnya aku melihat anak-anak kecil itu tersenyum. Senyuman yang manis itu membuatku bahagia. Ternyata Allah memberikan nikmati dari segala sisi dan dari segala ruang. Terima kasih ya Allah.

Setelah aku selesai memakan mie goreng aku bersuci mengambil air wudhu di Masjid dekat warung itu. Saat aku mengambil wudhu ternyata ada ketidak laziman yang aku lihat. Aku melihat tulisan di dinding tempat air wudhu itu tertulis "baca lupa". Wah apa mungkin ini teguran kepadaku karna aku sering lupa?

Sesuai aku bersuci kami melanjutkan memberi kesempatan kembali untuk mobil senia untuk berjalan menyusuri jalan raya. Matahari terbit di ufuk Barat ternyata saat matahari terbit kami disajikan kembali nikmat pesenan alam yang luar bisa indah oleh Allah sang Maha Indah. Sesampainya kami di pamijahan kami berjalan menyusuri beberapa anak tangga yang harus kami lewati untuk mencapai maqbarah Aulia Syekh Abdullah Muhi.

Dan ada adat istiadat yang dibentuk oleh Syekh Abdullah Muhi yaitu dilarang merokok jadi ada daerah dimana dilarang merokok. Alasan dilarang merokok karna saat Syekh Abdullah Muhi melakukan perjalanan menuju Makah lewat goa tempat beliau meningkatkan kewaliannya beliau mencoba merokok namun yang terjadi beliau hanya melihat kabut jadi biasanya beliau sampai di Makah lebih dulu dibandingkan dengan Syekh yang lain pada saat itu beliaulah yang terlibat sampai ke Makah. Dari alasan itulah beliau menurunkan dauh kepada masyarakat pamijahan agar tidak merokok.

Sampailah kami di Maqbarah beliau sebelum kami menaiki anak tangga kami bersuci dahulu berubah kami naik untuk sampai di maqbarah Syekh Abdullah Muhi. Sesampainya kami disana sebelum masuk kami diberikan ilmu soan oleh Bang Reno Akhir pemimpin soan kami. Setelah diberikan ilmu kami salam dan mencium tangan penjara maqbarah. Lalu di tunjukkanlah kami harus duduk dimana oleh beliau. Setelah itu kami melakukan soan masing-masing. Entah mengapa saat aku soan aku mendengar suara yang aneh suara yang berkata kamu adalah pemuda Indonesia yang berbeda dengan pemuda kebanyakan. Tetapi mau sampai kapan kamu tidak beranak? Memang kamu pikir kamu sudah sampai? Belum masih jauh perjalananmu untuk bisa sampai pada tujuan yang akan kamu tuju.

Baik memang segala pencapaian yang sudah kamu capai, tetapi itu masihlah sangat kurang untuk bisa sampai ke tujuanmu. Tiba-tiba air mataku terjatuh dan akupun menangisi tersendu-sendu namun lirik. Hanya kata maaf
Syekh Abdullah Muhi aku benar-benar minta maaf baru sadar akan kekurangan yang tidak aku lihat. Dan terimakasih sudah disadarkan. Setelah itu aku mencium wangi yang semerbak menabrak hidungku. Setelah itu kami keluar maqbarah lalu berfoto-foto dahulu baru melanjutkan perjalanan menuju goa tempat pertapan Syekh Abdullah Muhi. Di perjalanan kami menuju goa tempat pertapan Syekh Abdullah Muhi, kami dipimpin oleh salah satu warga bapak-bapak Pamijahan. Kami dituntun beliau dengan membawa lampu pijar.

Sampailah kami di gerbang goa pertapan Syekh Abdullah Muhi. Sebelum kami memasuki goa kami dipimpin oleh bapak-bapak warga setempat yang mendampingi kami untuk membaca shalawat Nabi. Sepanjang perjalanan, mata kami dimanjakan dengan pemandangan goa yang luar biasa indah. Selain mata kami yang dimanjakan aku merasakan kerinduan, kenyamanan, dan rasa yang lain yang sulit ku utarakan. Kami ke tempat dimana Syekh Abdullah Muhi berkumpul dengan murid-muridnya untuk menjadi hamba Allah.

Kami mencoba untuk duduk meditasi sesaat. Setelah itu kami melanjutkan perjalanan ke tempat mata air yang selalu digunakan Syekh Abdullah Muhi untuk berwudhu. Setelah kami memakan airnya lalu kami ke tempat yang biasa Syekh Abdullah Muhi gunakan sebagai tempat adzan juga khotbah. Kami tak lupa mengabadikan momen kami di tempat adzan dan khotbah.

Tak jauh dari sana terdapat pintu menuju Makah. Konon ceritanya Syekh Abdullah Muhi pergi ke Makah untuk berkumpul dengan wali Allah yang lainnya. Tak jauh lagi kami di tunjukkan bentuk lubang peci yang terdapat dilindungi atas kepala kami. Lalu kami mencobanya. Setelah itu kami ditunjukkan oleh Sang bapak tempat untuk menaruh kitab-kitab. Sesuai kami mendatangi tempat-tempat yang pernah Syekh Abdullah Muhi tempati kami mengambil air berkahnya. Setelah itu kami mengambil wudhu di air pancuran yang lain. Setelah itu kami memutuskan untuk keluar dari goa dan melanjutkan perjalanan menuju maqbarah Abah Anom daerah Suryalaya.

Sebelum sampai di Suryalaya kami disambut oleh hujan diberikan rezki air yang berpisah oleh Sang Maha Baik. Di perjalanan kami sempat mampir dahulu di bakso Echo di daerah Tasikmalaya. Hidangan rejeki yang nikmat sekali diberikan Sang Maha Pemberi Rejeki.Rasa syukur ku tiada henti terus berkumandang kepadaNya. Sesuai makan bakso Echo kami melanjutkan perjalanan ke maqbarah Abah Anom. Im comming Abah Anom... Rasa bahagia dan rasa malu baru belajar.

Sesampainya kami di Abah Anom kami disambut oleh wewangingan yang entah dari mana sumbernya. Kami memercayai itu Abah Anom yang datang menyambut kami. Disiram batin akan kerinduan juga malu mewarnaiku. Entah apa yang harus kulakukan. Kami menunggu salah satu teman kami untuk meminta ijin agar pintu ruangan maqbarah Abah Anom dapat dibuka. Sambil kami menunggu aku masih menempelkan hidungku disela-sela jendhéla untuk terus mencium wangi dari kehadiran Abah Anom. Setelah teman kami datang kami mendapat informasi bahwa pintu maqbarah dibuka pada saat-saat tertentu saja.

Akhirnya kami pun tidak memaksakan untuk bisa masuk kedalam maqbarahnya. Bang Reno memutuskan untuk duduk disamping maqbarah. Setelah itu kami mulai untuk soan. Dahsyat sekali frekuensi disana. Tiba-tiba entah kenapa aku menemukan air mata. Lalu setelah air mata itu terjatuh aku mengalami kehilangan kesadaran aku seperti berada dalam ruangan tanpa batas dan gelap. Dari kejadian muncullah barisan beberapa orang yang menggunakan jubah putih dengan sorban yang ada di kepala. Lalu mereka membentuk barisan atau saben yang lurus menhadapku. Dari Tengah-tengah barisan itu muncullah cahaya putih.

Awalnya hanya sebuah titik namun dari titik itu berubah menjadi bentuk orang. Tubuhku mulai tidak bisa ku gerakan. Dan anehnya lagi ternyata diriku terbelah utuh menjadi dua. Tetapi tubuhku yang lainnya transparan dan mempunyai cahaya putih dan biru. Aku memperhatikannya. Tubuhku itu berjalan mendatangi cahaya putih itu. Setelah itu tubuhku terjatuh dan berbicara maaf dan terimakasih kepada cahaya itu. Lalu cahaya itu memegang pundakku dan membangunkanku.

Setelah aku bangun cahaya itu memelukku.
Tiba-tiba lagi aku menangisi tersendu-sendu dan diwaktu yang sama aku yang lain juga menangisi tersendu-sendu. Kemudian aku yang sedang dipeluk cahaya itu berganti menangis. Saat berganti menangis cahaya itu berbicara sudah kembalilah dan teruslah berjalan di jalan ini. Aku menganggukkan kepadaku dan aku berjalan menuju aku yang lain. Setelah berhadapan aku berjalan tangan dengan aku yang lain dan meminta maaf juga berterimakasih kemudian aku memeluk aku yang lain. Saat aku memeluk aku yang lain semua seperti berputar-putar, seperti bumi ini berputar sangat kencang hingga isi yang ada di dalam bumi juga ikut berputar-putar.

Saat sedang berputar-putar aku seperti tersedot oleh gelombang yang menyakitkan yang ada di belakangku. Semua menjadi gelap. Saat aku membuka mataku ternyata aku sedang duduk bersimpuh di tempat ku berada. Wah satu pengalaman yang baru sangat dahsyat. Soan kami semua duduk terdiam sejenak. Setelah itu kami tetap berfoto-foto dan setelah itu kami pamit menuju kota Depok. Ya begitulah cerita kali ini yang ku rasakan. Sujud syukurku panjatkan kepada Gusti Allah SWT.

Terimakasih dan mohon maaf.
Pamijahan dan Suryalaya 7 November 2015
Rahmat Rama Respati

Rahmat Dibalik Jeruji Tajam

Ternyata lambat laun ujian yang diberikan kepada ku semakin bertambah. Malam itu perdebatan tak mungkin bisa aku hindari. Memang itu salah ku tak bisa membuat taman bunga yang indah juga mewah di dalam rumahku sendiri. Bagai tanah yang tandus dan retak aku hidup didalamnya.

Sulit untukku merubah padang tanah tandus itu menjadi padang yang hijau sejuk dan dipenuhi bunga -bunga yang indah di setiap sisinya.
Kepanasan dan kekeringan yang melanda keluargaku lambat laun akan berubah, aku yakin akan perubahan itu bila Allah telah mengizinkan aku untuk merubahnya atau hijrah ke daerah yang lebih subur dan hijau. Tatkala bayangan mimpi-mimpi indah dan kelam itu datang bersamaan melewati alam bawah sadar ku. Namun memang tak bisa kupanggil dan tak bisa ku tolak kehadirannya.

Akan tetapi kemungkinan ku mengikuti apa yang datang padaku dan apa yang pergi menjauh dariku bukanlah perkara yang cukup mudah untuk bisa ku lalui. Sebuah mawar hitam yang berduri tajam bagai benalu masih tersembunyi dibalik sisi gelap diriku yang tak bisa ku dustakan, ku pungkiri dan ku anggap tiada. Walau tak pernah jua ku menyiram nya, memberi pupuknya ia akan tetap tumbuh dan bersarang dalam sisi gelap ku bila itu semua atas kehendaknya.

Ku tak berdaya apapun dan ku tak bisa merubah maupun menolak celupan jari jemari Allah. Bila Allah berkehendak memusnahkanku maka aku akan musnah begitupun juga sebaliknya bila Allah menghendaki aku hidup maka aku akan hidup. Hanya itu dan bahkan memang seharusnya begitu yang akan terjadi kepadaku bila aku ingin terus bersamaNya dalam kesepian, keheningan, kekosongan, ketiadaan, ketidak berdayaan, ketidak sanggupan dan ketidak rasaan ku pada kehendaknya. 

Inilah yang ku rasakan kala malam yang mencekam itu.  Saat perkataan aku akan dibunuh oleh ayahku sendiri yang langsung terucap dari lisan papaku. Tercenganglah aku dalam keshokannku mendengar kalimat itu. Apa salah ku hingga menyebabkan papaku dengan sangat mudah berkata itu?

Aku langsung berkaca pada diriku sendiri ternyata aku masih menjadi hina,  munafik, membohongi diriku sendiri, tak mempunyai keyakinan, tidak bermanfaat,  tidak membuat seseorang disekirku bahagia, aku masih ingin seks, aku masih takut, cemas, khawatir, tidak sabar, masih menyia-nyiakan waktu, tidak teguh pada pendirian, tidak ikhlas dalam menerima hal yang terburuk dalam hidupku, amarah yang meledak-ledak, masih menginginkan martabat dimata manusia, masih serba melekat kepada apapun, jiwaku masih tidak tenang,  aku masih tidak pernah bersyukur, ceroboh dalam hal apapundan masih banyak lagi kekuranganku.

Ruhku seperti spon yang terlalu banyak ruang kosong yang tak ada pembatasnya. Bila diisi air tak dapat tertampung tetapi keluar lagi tidak pernah mengendap dan menjadi berlian..namun aku bersyukur karna dengan diberikan ujian ini aku jadi tahu bukan hanya saat aku mendapatkan yang bahagia-bahagia saja aku harus bersyukur kepada Allah,  tetapi saat aku mendapatkan ujian kesulitan pun aku harus tetap bersyukur kepada Allah. Karna dialah yang ada aku tidak ada dan hanyalah dia yang segalanya aku yang tidak segalanya. Sujud syukur ku panjatkan ke Gusti Allah SWT atas pemberian kepercayaan Allah memberikan ujian ini kepadaku.

Depok, 19 November 2015
Omah Mangkat
Terimakasih Dan Maaf kepada Mu Ya Rabku
Rahmat Rama Respati

REVOLUSI DINI

Jum'at (13/11/2015), Bogor Nirwana Residence, Bogor Jawa Barat, Khatulistiwamuda - Sebuah kegiatan tak lazim dilakukan oleh muda-mudi saat libur telah tiba. Disebuah rumah yang terdapat di pedalaman komplek daerah Bogor ini serombongan yang terdiri dari kurang lebih 12 muda-mudi berkumpul untuk belajar pulang dengan bahagia. Mereka seperti bergerak untuk melawan arus kehidupan.  "Kami tidak ingin terlalu jauh dalam jalan yang salah. Oleh karna itu kami berputar dan menerobos kerumunan kebiasaan yang ada diluar diri kami tetapi kami berjalan menuju dalam diri kami untuk menemukan sejatinya cinta", ujar Reno pemimpin rombongan mereka.

Ternyata ini adalah fenomena yang jarang terjadi. Mereka yang masih muda merelakan diri mereka untuk terus menerus menuntut ilmu bukan menghabiskan waktu untuk berwisata ke tempat-tempat hiburan, jalan-jalan, berkuliner, mabuk-mabukan, diskotik atau yang lainnya yang seperti biasa dilakukan muda-mudi di kebanyakan tempat. Mungkin ini yang dimaksudkan menyiapkan regenerasi yang dihitung berdasarkan tiga hal yang sering menjadi semboyan wong jowo yaitu bibit, bebet dan bobot yang benar-benar berkualitas.

Khatulistiwamuda. Itulah nama perkumpulan mereka. Empat tahun sudah eksistensi mereka dalam bidang spiritual, sosial, seni-budaya dan pendidikan, meski masih dalam lingkup regional, kerja mereka selalu tepat pada sasaran. Berdasarkan visi dan misinya, mereka ingin mencerdaskan kehidupan berbangsa. Kegiatan andalan mereka adalah Lokakarya (pelatihan), biasanya mereka sering melakukan setahun dua kali. Selain mengundang pemateri yang kompeten, banyak juga yang tertarik ikut bergabung dengan mereka.

Uniknya dari perkumpulan ini adalah tidak adanya sistem reqruitment, semua anggota yang masuk kedalamnya murni atas keingingan mereka sendiri, dan hanya dikenakan biaya 25.000. Menurut Reno - pendiri Khatulistiwamuda “Biaya itu sebagai mahar dirinya untuk belajar bersama kami.” Bulan November ini mereka merayakan ulang tahun ke Empat. Selama tiga hari, mereka berkumpul di Bogor Nirwana Residence.

Tak ada nasi kuning, kue ulang tahun, hiasan-iasan ruangan, lilin atau kebutuhan ulang tahun. Sangatlah sederhana mereka mengatakan ulang tahun perkumpulan nya dengan duduk melingkar berdiskusi, mengaji dan berbincang - bincang tentang program kedepan yang akan dilakukan mereka. Dahsyat,  hanya itu yang bisa saya katakan untuk mereka para pemuda dan pemudi penerus bangsa yang besar ini bangsa Indonesia.
Biasanya visi dan misi terbuat hanya sebagai hiasan disebuah kertas yang di taruh di bingkai foto dan di letakkan di dinding-dinding tembok organisasi saja tanpa pernah dipertanggung jawabkan, bahkan di baca saja tidak. Tetapi berbeda dengan perkumpulan yang mereka bentuk betul-betul menjadikan itu sebagai suatu pedoman. Berada dalam lingkaran mereka, membuat kami tak habis terkagum-kagum dengan pola pikir mereka yang bebas dan tak terbatas. Pimpinan mereka, justru memberikan keleluasaan penuh pada para anggota untuk mengungkapkan ide-idenya.

Para anggota tidak pernah dibuatkan gembok di sangkar mereka masing-masing. Mereka seperti burung yang berterbangan bebas di langit-langit Nusantara untuk menjadi ujung tombak tanaman-tanaman yang bergantung pada burung untuk membawakan sari-sari bunganya. Yah begitulah mereka para pemuda-pemudi yang hebat. Mereka tak kenal lelah. Itu kamu buktikan selama kami meliput mereka dalam waktu tiga hari itu.
"Memang tidak lama waktu kami untuk berkumpul,  tetapi dalam tiga hari itu kami mendapatkan informasi yang luar biasa yang di ajarkan oleh pemimpin kami. Khusus saya sendiri banyak input yang saya dapatkan untuk bisa mengetahui hidup yang sebenarnya dan yang terpenting saya dapat menemukan diri saya yang selama ini pergi entah kemana. " pengakuan salah satu anggota mereka yang bernama Rama.

Reno—mereka memanggil saya dengan panggilan Bang Reno, saya sengaja membuat kebiasaan ini karena Nabi Muhammad saw. Senang betul duduk seperti itu bersama sahabatnya. Nampaknya, sendiri-sendiri selain mengurusi dunia,ingin saya pribadi ingin mengajak adik-adik Khatulistiwamuda untuk mencintai agamanya dengan langkah pertama mengenal diri mereka sendiri-sendiri. Seorang pemuda berambut pendek yang menggunakan kacamata, warna kulit kuning langsat dan bertubuh tidak terlalu tinggi namun berisi begitulah perwatakan pemimpin dari organisasi yang bernama Khatulistiwa muda ini.
Bagaimana tidak dahsyat organisasi ini tida, bukan hanya anggotanya saja bahkan pemuda yang kerap disapa " Bang Reno" ini menciptakan visi yang luar biasa yang tidak pernah terfikir sebelumnya oleh para revolusioner sebelumnya visi yang dibuatnya adalah " Unify the cityzen of the world ". Ternyata selama tiga hari itu mereka terus saja mengkaji tentang diri sendiri. Sebuah ilmu yang tidak banyak orang tahu dan ingin mempelajarinya.

Banyak dari mereka merasakan betul perubahan dalam dirinya, Vera, Putri, Riska, Dyah, Ae, Rama, Aldhi, Farhan, Ijal, Alvin dan Amir mereka semua mengalami pencapaian perubahan diri yang berbeda-beda untuk menuju ke perubahan yang lebih baik. Sistem yang dibuat oleh pimpinan Khatulistiwamuda ini tak hanya satu arah saja tetapi ia menerapkan sistem dua arah namun tetap tidak membosankan seperti di bangku perkuliahan. Dimana para anggota selain berinteraksi keluar bisa sekalian belajar ke dalam dirinya. Seperti yang diceritakan oleh Reno, sejak masih duduk dibangku sekolah, ia sudah memiliki kegelisahan akan kehidupan di Indonesia. Bagaimana nasib adik-adik dibawahnya kelak, siapa yang akan jadi garda depan ketika bangsa asing mulai menjajah lagi. Sedangkan, sekarang anak-anak muda tak ada yang bisa di andalkan. Sebuah cita-cita yang sangat mulia ditanamkan dalam benaknya itu.
Begitulah laporan yang dapat di ceritakan dari pertemuan mereka selama tiga hari di daerah Bogor.

Senin 16 November 2015, Bogor Nirwana Residence
Respati Reporter koran Janjuki

Malam RahmatNya

Sumringah batinku tersenyum lebar menyambut kedatangan guru juga kakek guruku. Malam itu semilir angin yang lembut dan sejuk juga langit malam yang cerah ikut menyambut kedatangan beliau. Sungguh anugerah nikmat yang sangat luar biasa yang kurasakan kala malam ini. Seperti sang pujangga menunggu kehadiran sesosok sang tambatan hatinya. Ya begitulah yang kurasakan.

Derai deras cinta menyebar melalui darah, merasuk dalam sumsum, menyatu dalam daging dan bersarang dalam hati ini. Aroma tubuhnya membuatku sekejap terpana dalam taman bunga yang indahindah. Mata tak dapat berkedip walau hanya sesaat kulit ini tersenyum saat bersentuhan dengan kulit beliau para guruku. Bahkan pipi ini menangis bahagia saat kami cipika-cipiki. Sekujur tubuh ini terasa mengucapkan terimakasih ya Gusti Allah yang tak henti-hentinya memberikan nikmat yang luar biasa padaku.

Memang benar-benar Gusti Allah Sang Idolaku, Sang Raja ku, Sang Pengayomku, dan Sang Segalanya untukku. Segala puji syukurku ingin selalu ku panjatkan hanya untukMu Gusti Allah Subhanahu Wata'ala. Aku ingin kembali padamu wahai sang tambatan hatiku. Terseok-seok, perih, dan getaran batin ini ingin menyambut kepulangan dengan bahagia menuju hadapan Mu Gusti Allah ke tempat Mu yang suci.

Tolong,.tolong dan beribu-ribu tolong ku haturkan kepadaMu Sang Pemilik Segalanya ijinkan aku tuk pulang dengan bahagia menuju dekapanMu. Tidak ada keinginan ku yang lain selain itu ya Gusti tolong ijinkan dan ajari aku sesosok bangkai yang kotor ini. Oh Gusti Allah ijinkanlah hati ini merindukan Mu. Dan ijinkan aku untuk mencintaimu juga cinta rindu ini tetap terus menerus bersarang dalam hati dan menyatu dalam tubuh ini juga selaras dalam nafas yang terus melantunkan dalam setiap langkah ku ini ya Gusti Allah.

I Love You and I Miss You Gusti Allah Robbul'alamin.

Omah Suluk, Gandul
2 Desember 2015
Ijinkan ku selalu terjaga dalam dekapan Cinta dan belaian Sayang Mu wahai Gusti Allah
Rahmat Rama Respati

Samudra yang tak berbuih

Aku duduk di tepian kapal sambi menyenderkan badanku ke tiang-tiang pagar kapal. Jujur aku terkesima dengan keindahan laut yang tak terkira. Laut yang nampak tenang namun sejujurnya tidak.

Lautan yang berwarna biru namun bukan airnya yang berwarna biru. Dihiasi dengan garnish pulau-pulau kecil dan beberapa kapal laut.

Aku menikmati sekali pesona alam luar biasa indah yang diciptakan oleh sang maha indah. Dengan telah memasang niat juga berjanji selalu belajar untuk menggunakan waktu agar bermanfaat setiap detiknya, karna itu saat aku terus memandang tegak lurus ke arah kananku, aku tak melihat ada ujung dari samudra ini namun sebenarnya ada ujungnya, entah disudut manapun samudra itu akan selalu ada ujungnya.

Walau aku tau ini hanyalah fana semata, tetapi seperti orang tua akan selalu berbicara kamu ganteng atau cantik sekali si nak, disadari atau tidak semua orang tua pernah berbicara itu kepada anaknya.

Dan orang tua kita itu bisa berbicara memuji seperti itu karna didalam diriku terdapat darahnya. Setelah aku renungi ternyata seperti aku memandang pesona alam yang fana ini lalu aku memujinya karna aku pun dalam 1 lingkup kefanaan yang sama samudra ini.

Jikalau memang begitu untuk hubungan kita dengan sang maha pencipta bisa seperti contoh samudra  yang fana ini dengan aku yang fana ini. Karna sejatinya kita semua itu toh dari Gusti Allah kan? Dan kita semua sebenarnya berbakat berbahagia dan manunggaling Gusti Allah rabbul alamin.

Hanya mau atau tidak. Kalau mau jalani ya kalau tidak pun jalani ketidak mauannya masing-masing. Sama juga seperti buih yang timbul karena ombak atau air laut yang di pecahkan kapal laut, aku yakin air-air ini akan memilih apakah ia akan berbeda zat, bentuk rupa, dan senyawanya dengan air atau tidak.

Jika ia tetap memilih ingin tetap bersama air maka ia harus menjalaninya tetap menyatu dengan air dari perbagai unsur nya. Dan jika ia memilih berpisah maka ia akan berbeda segala jenis unsur apapun.

Berserah se menyerah-nyerahnya kepada Gusti Allah seperti pelastik yang tertiup oleh angin yang membawa ia kemanapun hingga akhirnya ia menyentuh air di samudra. Terimakasih ya Allah engkau maha pengasih dan tentang tak ada apapun yang dapat ku pungkiri atas semua pemberianMu Gusti Allah.

Selat sunda, samudra lepas 20 Desember 2015 11:41 WIB

Syekh Malik Abdullah

Nama Syekh Malik Abdullah nama asli Minak Ngediko Pulun Bin Minak Brajo Nato, sanad guru Tidak diketahui bahkan ahli waris keturunannya pun tidak mengetahuinya, lahir tidak mengetahuinya menurut cerita ahli warisnya Beliau saat datang bersama pamannya bernama Minak Sangaji Mentanah adik dari ayahanda syekh bersama 1 kakaknya Minak Pulang Sangdiwo dan adiknya yang bernama Minak Pati Agung datang ke pulau sulawesi ini untuk hijrah.
Dan beliau syekh Malik Abdullah berkata kepada saudara dan pamannya jikalau ayam yang aku bawa berkokok di satu daerah maka aku akan tinggal di daerah itu. Saat perjalanan mereka syekh Ayam yang dibawa itu entah dari mana daerahnya berkokok di lampung dan beliau sempat hilang dari rombongan lalu paman beserta saudaranya mencari syekh Malik Abdullah maka ditemukanlah sedang melakukan bertapa di salah satu lubang yang cukup dalam lalu paman beserta saudaranya melanjutkan perjalanannya.

Syekh Malik Abdullah menurut cerita ahli warisnya adalah bapak guru dari wali songo sebelum wali songo belajar kepada Syekh Gentar Bumi. Syekh Malik Abdullah ini hidup sekitar 300 abat yang lalu. Ia mendapatkan pusaka meriam kecil saat ia melakukan pertapaan di dekat maqbarahnya. Meriam itu digunakan oleh beliau untuk berperang melawan Portugis. wafat tidak diketahui kapan ia wafat. Syekh wafat setelah berbicara kepada penjaganya tentang terbang burung maka terbanglah sangkarnya yang artinya aku akan berjumpa dengan Allah secara utuh jadi keturunanku tidak akan pernah menemui jasadku saja atau hanya ruhku saja karna aku berjumpa secara utuh menemui sang Gusti.

Sejak saat itulah beliau menghilang entah kemana dan bahkan beliau berpesan kepada pengawalnya jangan memberitahu namamu kepada orang lain setelah aku menghilang, alamat maqbarah, nama kuncen Ahmad Fathoni, anak turunannya di mana anak keturunannya tinggal di sekitaran maqbarohnya karna sebelum ia menghilang di tempat maqbarohnya sekarang berpesan agar anak cucunya harus tinggal di tempat dimana ia menghilang, adakah muridnya syehk tidak mempunyai murid karna beliau selalu berpesan aku bukanlah guru tetapi aku juga sama dengan makhluk yang lain aku adalah murid dan guru yang sejati adalah Allah jadi cintailah se cinta-cintanya kepada Allah dan sesopan-sopanlah kepada Allah karna Allah adalah guru kita semua, perawakan beliau kurus seperti aku badannya kecil menggunakan tongkat dan dan kakinya pincang.

Pesan dari beliau yang lain adalah berniat baiklah karna Allah yang maha baik. Kharomah beliau bisa menyembuhkan segala macam penyakit, mampu membuat benteng ghaib menggunakan tongkatnya. Konon cerita mengenai benteng itu digunakan untuk menangkal segala macam bala yang ada di dunia. Alkisah kampung itu ingin diserang menggunakan meriam oleh portugis tetapi saat bola meriam itu titembakkan tiba-tiba bola meriam itu hilang dan meledak di dalam markas portugis.

Benteng yang dibuat itu mengelilingi kampung itu. Bahkan setiap orang yang datang ke kampung seputih surabaya lampung berniat buruk akan kehilangan nyawanya setelah sehari orang itu berada di kampung seputih surabaya lampung itu. Bahkan pusaka peninggalan beliau sering diincar penjahat karena 1 pusaka beliau mampu membeli 1 negara jika dijual. Awalnya beliau tidak ingin banyak yang mengetahui bahwa dia syekh sebelum ia menghilang karna tidak ada yang patut dibanggakan dariku selain kalian mempelajari kekuranganku. Karna yang wajib berbangga hanya Allah Ajjawajalla. Sang pemilik jagad raya dan jagad alit.

Aku mengutus seekor macan putih tanpa bulu untuk menjaga tempat pertapaanku dan aku mengutus 2 algojo yang sangat besar untuk menjaga pintu masuk pertapaaanku dan aku mengutus 2 makhluk untuk menjaga pintu masuk tempatku menghilang dan 2 orang untuk menjaga pelataran tempatku menghilang dan 2 lagi untuk menjaga ruangan tenpat ku menghilang. Sang kuncen bercerita tentang adiknya yang bernama Ayu. Ibu Ayu adik saya itu pernah mengitari pulau jawa dalam kurun waktu sebentar saja.
Kejadian itu terjadi saat ibu Ayu masih berumur 5 tahun menurut cerita Ibu Ayu saat saya kecil berumur 5 tahun saya suka sekali bermain di wilayah pertapaan Syekh Malik Abdullah. Saat saya sedang bermain saya bertemu dengan seorang kakek-kakek tua yang perawakannya mirip seperti Syekh Malik Abdullah dan beliau mengajakku untuk masuk kedalam lubang yang seperti sumur itu. Setelah saya masuk saya diajak oleh beliau untuk berkeliling pulau jawa dalam waktu yang sangat singkat.

Dan saat mereka berjalan mengitari pulau jawa mereka di bagai oleh 3 ekor burung hantu berwarna putih yang hingga saat ini selalu datang tiba-tiba ke maqbarah beliau dan bertengger diatas cungkup beliau saat fajar tiba ketiga burung itu terbang dan menghilang entah kemana. Dan di depan maqbarah ada lapangan untuk bermain bola. Jika ada yang bermain bola dan menyimpan dendam, iri dan sebagainya maka kakinya akan patah dan tidak akan bisa disembuhkan sebelum memohon maaf pada Allah dan dirinya sendiri juga kepada orang yang bersangkutan. Itu di sebabkan karena kakinya di tendang oleh seekor kuda berwarna merah.
Dan yang menjaga kampung itu adalah 2 ekor kuda berwarna hitam dan merah. Mereka mempunyai tugas masing-masing yaitu kuda hitam menjaga tamu yang datang dengan niat yang baik sedangkan kuda yang merah memberikan bala apapun kepada orang yang berniat buruk. Dia yang pertama kalinya menyebarkan agama di sumatra adalah beliau Syekh Malik Abdullah. Dari ujung pintu masuk kampung itu aku disambut dengan angin yang sangat sejuk juga bau bunga yang tidak putus hingga aku keluar dari perkampungan itu lagi.

Dan anehnya saat angin itu berhembus menurutku cukup kencang tetapi tidak ada daun yang bergoyang yang berada di sekitar ku.
Saat aku datang ke petilasan syekh ternyata saat aku berbincang-bincang sama kuncennya tidak bisa sembarangan orang yang bisa masuk ke dalam petilasan itu karna sebelum masuk kedalam petilasan itu konon ceritanya jika tidak diijinkan untuk berkunjung maka pintu kecil sebelum masuk kedalam itu tiba-tiba menyempit dengan sendirinya. Tapi alhamdulillah segala puji bagi Allah aku diijinkan bisa memasuki sampai kedalam petilasannya. Terimakasih ya Allah.

Begitulah pengalaman tentang perjalannku

Seputih Surabaya, Lampung
Senin, 21 Desember 2015

Sepucuk Kerinduanku


Manusia paripurna itulah engkau baginda nabi Muhammad shali 'allah Muhammad. Aku sangat malu jika aku mengenangmu dalam setiap detik hidupku karna cintamu terus mengalir dalam helaan nafasku, tetapi aku? Maaf kan aku ya Rasul. Engkau lah idolaku dan engkau lah contoh terbaik untukku. Hanya Alfatihah yang mampu ku hadiahkan. Maafkan aku ya Rasul derai air mata ini tak bisa menggantikan kerinduanku padamu. Walau aku tidak hidup disatu zaman olehmu entah mengapa cintamu masih dapat kurasakan hingga detik ini.

Aku ingin bertemu denganmu setiap saat memelukmu, menciummu adalah anugrah dan hadiah terindah ku yang diberikan Allah untukku. Jikalau itu terjadi kepadaku maka bukan jiwa ini yang tidak kuat bahkan raga ini pun pasti akan melebur menghilang dalam cintamu yang tulus dan suci itu. Engkau laksana orang tuaku yang selalu ku rindukan. Ya Allah begitu indahnya nikmat kerinduan yang Engkau berikan untuk ku bisa merasakan rindu kepada kekasihku Muhammad. Apakah engkau mau untuk mengisi bagian cintaku yang lain? Aku tak mampu lagi untuk berkata-kata.

Jika rindu bisa ku beri nama maka akan ku namakan itu engkau baginda nabi Muhammad shali 'ala Muhammad. Dimalam ini malam selasa keliwon aku merindukanmu ya Rasul aku sangat merindumu. Karna engkau lah idolaku. Aku bahkan tak perduli orang lain berkata apa mengenai ku karena bagiku mencintai Allah, mencintaimu, mencintai guru-guruku, dan mencintai orang tuaku sudah begitu cukup untukku. Sesak nafas ini selalu ingin kurasakan dan air mata ini ingin selalu ku teteskan untuk merindukanmu ya Rasul entah mengapa engkau begitu ku rindukan hanya cinta mulah yang selalu ku rindukan ya Rasul ya Rasul ya Rasul. I love you forever. Allahumma shali 'ala Muhammad.

Lampung, Senin 23 Desember 2015.
Terimalah ungkapan Kerinduanku padamu ya Rasul.
Rahmat Rama Respati

Sepercik Cinta Mu yang berjalan di muka bumi

Saat ku sedang tertidur lelap aku mendengar suara kerinduan ku pada seorang mama. Seorang perempuan yang telah melahirkanku, menjaga ku saat kecil, dan yang sudah dititipkan amanah oleh Gusti Allah. Aku pun merasakan sentuhan lembutnya, mencium harum tubuhnya. Dan saat ku membuka mataku ternyata yang ku lihat adalah seseorang perempuan yang cantik anggun dan selalu ku rindu ialah mamaku. Derai air mata, kerinduan, cinta dan kasih sayangku tertumpah ruah saat itu.

Ternyata sakit sekali jika semua itu tertumpah secara bersamaan. Ya Allah sujud syukur ku panjatkan karna engkau telah menghadirkan seorang wanita seperti mamaku dalam hidupku. Sungguh bahagia sekali aku pernah terlahir dari rahim wanita itu yang sekarang ku sebut ia dengan kata MAMA. senyuman nya derai air matanya yang sempat terjatuh di ubun-ubunku itu semua terasa amat menyiksa batinku. Tetapi rasa itu yang selalu ku rindu hingga saat ini. Tak banyak kata atau kalimat yang bisa ku keluarkan untuk melukiskan ia mamaku.

Sama halnya saat aku melukiskan Engkau wahai Gusti Allah. Terdapat pesona yang sungguh luar biasa yang kurasakan. Beban-beban yang selama ini menggelayutiku serasa pergi dengan sendirinya dan seperti sudah tak mau hinggap dalam hidupku lagi. Pelukan hangat mama ciuman nya di bibirku membuatku ektasi.atau mabuk dalam ruang kebahagiaan cinta. Walau wajahmu menua namun engkau tetap wanita terbaik yang mampu mengajariku dan menyayangiku dengan ketulusan juga kejernihan hatimu.

Engkau perantara dari Gusti utuk memberikan segudang pelajaran mengenai cinta juga rindu. Beribu-ribu ucapan maaf dan terimakasih yang ku keluarkan tak cukup untuk membalas apa yang sudah kau berikan dalam hidupku. Hanya doa " Ya Gusti Allah sang pemilik segalanya, Jadikanlah mamaku menjadi kekasihMu wahai Gusti Allah dan cintai juga sayangi ia dalam samudra cintamu yang tak bertepi itu. Curahkan selalu Rahmat juga berkah Mu didalam aliran darahnya, detak jantungnya juga setiap hembusan nafasnya. Dan selalu ajarkan kepadanya cara kembali kepadamu dengan bahagia.

Dan limpahkan kebahagiaan dalam setiap perjalanan hidupnya. Juga rahmati dan berkahi lah setiap orang yang membantunya dan menyayanginya. Karna aku tak mampu untuk memberikan balas budi yang setimpal kepada orang-orang yang telah membantu, merawat dan menyayangi mamaku. Hanya Engkaulah yang mampu memberikan Rahmat dan Berkah sebagai hadiah kepada orang-orang itu. Amin ya Rabbal'alamin. Terimakasih ya Allah atas segala nikmat yang telah Engkau berikan dalam hidupku.

". Bagiku mama adalah cerminan kasih, sayang, cinta dan rindu dari Engkau Gusti Allah yang berjalan di muka bumi ini. Amin."

Gaya Baru, Lampung
Senin, 22 Desember 2015
Hormatku
Rahmat Rama Respati

TEGURAN juga pelajaran hidu Mu.

Aku harus berubah. Hanya itu yang harus aku lakukan tak ada tawar menawar dan tak ada kompensasi apapun yang harus ku berikan pada diriku sendiri. Aku harus memasang niat "AKU HARUS BERUBAH" tak perduli betapa beratnya rintangan yang harus ku lalui dan tak perduli betapapun tertatihnya aku untuk merubah segalanya. Hari ini 3 Desember 2015 pukul 1.58 WIB aku harus berjuang menyisihkan satu persatu dari benalu hidupku. Ya Gusti Allah tolong bantu aku untuk menjalani perjalanan batinku berjumpa dengan Mu.

Tak nyata namun nyata itu adalah sesuatu pukulan terperih selama aku belajar bersama guruku. Ternyata lagi-lagi aku tidak sadar telah mempermalukan nama baik guruku. Wahai guruku maafkanlah aku. Derai air mata ini tak akan menjadi sesuatu dan akan menjadi buih di samudra lepas saja jikalau aku tidak mau berubah. Aku harus lebih memperhatikan sopan santun ku beradab dengan baik, akupun harus mau tidak mau menjauhkan perempuan karena aku masih jauh sekali penahan mengenai cinta.

Mengurung diri dalam gemerlapnya dunia memang barulah pertama kali aku lakoni. Kesombongan, kemunafikan, berbohong dan masih banyak lagi yang harus aku kurung dalam penjara diriku yang lambat laun bila tak bisa ku penjara kan menjadi senjata paling berbahaya untukku. Ya Allah ampuni aku janganlah engkau beri aku tentang kualatmu ya Gusti Allah aku minta ampun sebesar-besarnya, seluas-luasnya aku memohon ampun.

Untuk diriku Rama aku akan berjuang untuk membuatmu terlepas dalam rantai kehancuran atau kefanaan belaka. Jangan lagi terulang jangan Ram jangan!ini adalah teguran keras untukku. Apa lagi yang akan kau cari Ram selain keseharian dari cinta Sang Ilahi.  Semua akan percuma atau akan menjadi omong kosong belaka Ram. Cobalah sadari detik per detik perjalananku untuk terus berjalan di hadapan Sang Ilahi. Kenali warna dari rambu-rambu asmara kehancuran. Ayo Ram kita harus bekerja sama dalam misi menyisir kan segala kekurangan ku.

Omah Suluk, Gandul
29 November 2015
Janji ku untukmu Rama
Rahmat Rama Respati

Purnama

Purnama seorang gadis mempunyai keparasan wajah yang cukup menarik. Dengan mengenakan baju batik yang indah. Dia melantunkan nembang-nembang syair sang Ilahi. Nembang-nembang syar'i yang bisa mengoyak-ayik kehidupanku. Sang mata Ilahi pun terus menerus mengintai dalam gelap maupun terang. Purnama,  ia bergerak perlahan tanpa ku sadari menjauh bersama putaran waktu yang terus berjalan. Sungguh elong pancaran cahayanya menembus lapisan-lapisan ozon yang telah mempunyai sistem yang dahsyat pula.

Purnama ia menjadi keluarga Surya. Surya sang pelengkap. Sebut saja begitu. Aku menamai pak Surya dengan Sebutan pelengkap karena beliau masih menjadi pelengkap yang wajib ada namun tidak dipuja. Purnama engkau bagai sang pelita bagi bumi saat malam hari. Engkau pun menjadi saksi atas perjumpaan ku menuju sang Ilahi. Terkadang aku senang melihatmu dalam keadaan utuh wahai purnama. Karena bila kau utuh maka keindahan akan pesona auramu terpancar utuh sejagad raya ini karna izinNya.

Aku banyak belajar akan dirimu yang elok parasmu dan cantik cahayamu dan lembut pergerakan mu. Alangkah indahnya engkau menjadi nikmat yang langsung dari sang Ilahi yang jelas terlihat namun tersembunyi. Engkau laksana matahari sebagai saudara kembarmu apa engkau bisa menyampaikan salamku kepada Allah? Aku tau mungkin engkau pernah bersedih karna tak ada yang menganggapmu ada. Tapi tenang aku salah satu dari sedikit orang yang menganggap kamu ada dan begitu cantik nan mempesona. 

Ternyata indah penciptaan ilahi membuat mulutku tertutup tak bisa terbuka. Terkagum-kagum ku memuji engkau wahai sang Ilahi. Sang maha perkasa namun tetap sang maha lembut. Engkau tiada tara dan tak terbandingkan oleh apapun. Ijinkan aku bertemu dengan mu wahai pemilik segalanya. Aku ingin terbebas dari rantai kerinduan yang kencang mengikatku dan aku terbuai mabuk dalam kerinduan padaMu wahai sang Ilahi. Tolong ajari aku dan panggil aku pulang dalam kebahagiaan.

Depok, 22 November 2015
Areman
Rahmat Rama Respati

Rahmat dalam menyerah.

Aku duduk dibibir kapal yang aku naiki. Sebelum ku berada dibibir kapal dan menulis sebuah cerita ini aku akan bertutur tentang pengalaman yang baru saja ku alami di dalam kapal tepatnya di lantai 3 kapal yang ku naiki. Suara alunan musik dangdut terdengar amat kencang di telingaku lalu ku datangilah ternyata disana terdapat kafe musik live. Tak ketinggalan pasti ada penyanyi dangdutnya yang bernyanyi dan berjoget sesekali penyanyi dangdut itu mendatangi penonton untuk meminta sawerannya.

Memang tak besar uang sawerannya yang ia dapatkan namun saat penyanyi dangdut itu menghampiriku dengan lemah gemulai dan sejuta rayuan ia keluarkan demi mendapatkan uang sasarannya yang memang tak begitu besar. Aku memang berniat memberikan sedikit uang yang ku punya namun sebelum memberikan penyanyi dangdut itu berbicara tentang "mas yang ganteng ayo mas di sedekah kan sedikit rizkinya untuk menyawerku." Aku sempat terdiam dan tercengang mendengar kalimat yang ia ucapkan.

Bukan di kalimat mas yang ganteng tetapi di kalimat menyedekahkan sedikit rizkinya untuk menyawerrnya. Lalu aku bertanya kepadanya " mbak kok menyedekahkan sedikit rizki yang ku punya? Maaf jika saya boleh tahu dari mana asal mbak?" Perempuan itu menjawab " saya dari caruban mas. Ia menyedekahkan kepada ku karna aku kan termasuk golongan fakir miskin. " aku berbicara lagi "mengapa mbak tidak malu untuk berbicara mbak golongan fakir miskin? Oh dari caruban toh saya pernah memainkan naskah teater berjudul sobrat."

Lalu perempuan itu menjawab lagi " ia karna yang saya tahu dari diri saya dan hidup saya adalah orang miskin buktinya apa bedanya saya dengan pengemis? Hanya bermodal suara saja. Yang saya tahu dari diri saya hanyalah seperti ini. Walaupun begini diri saya tetapi saya cukup bahagia menjalaninya dan yang saya tahu tuhan saya maha penyayang. " saat perempuan itu berbicara seperti itu aku merasa terpukul perempuan itu meyakini bahwa tuhannya maha penyayang dan karna tuhannya maha penyayang maka ia akan disayang.

Waw pelajaran yang sangat berharga bahkan dari skup yang tidak terfikirkan olehku nikmat yang telah diturunkan. Dan perempuan itu mampu mengetahui lagu-lagu apa yang disukai oleh penontonnya. Yah setelah itu aku memberikan hak sawerannya. Setelah itu dia berbicara terimakasih ya tuhan terimakasih ya mas karna baru mas yang memberikan sawerannya paling banyak malam ini. Seorang perempuan mengenakan pakaian yang begitu seksi hingga lekuk tubuhnya terlihat dengan jelas bisa mensyukuri nikmat yang telah di berikan oleh tuhannya. Subhanallah.

Setelah itu aku pergi ke bibir kapal. Di sana aku bertemu pakdeku yang sedang merokok sambil meminum kopi. Lalu pakdeku memanggilmu untuk menemaninya. Angin yang kencang menerpa badanku bahkan saking kencangnya sesekali aku hilang keseimbangan. Kami berdua duduk di pelatarannya. Entah ada angin apa pakdeku menceritakan pengalamannya berlayar waktu dulu dari semarang hingga kalimantan. Yang ia katakan adalah sangat menyeramkan berada ditengah-tengah laut selama 3 hari 2 malam.

Dan tidak pernah berjumpa kapal tidak melihat pulau yang pakde lihat hanyalah air laut dan langit. Pakde sempat menangis saat malam tiba terasa gelap menyelimuti kapal kami. Pakde bersama awak kapal tidak bisa melakukan apapun kecuali terus berlayar mengikuti arah kompas. Di malam yang kedua dilallah kompas kami rusak dan kami kehilangan arah. Disitulah pakde belajar tentang berserah le. Allah maha pemurah maha penolong bagi hambanya yang ingin ditolong olehNya. Disitulah pakde membuktikan Allah maha besar kamu tahu apa yang terjadi pada kami? Aku menjawab tidak pakde.

Lalu pakde ku bercerita kembali. Kami sepakat akan terus berjalan hingga menemukan pulau yang berpenghuni. Jika kami menemukan pulau kami mencari kompas untuk melanjutkan perjalanan. Malam itu pukul 12.00 kami menemukan pulau namun tak berpenghuni lalu kami berjalan kembali kami tidak patah arang untuk mencari pulau itu. Namun tak jua kami temukan akhirnya kami patah arang menemukan pulau yang berpenghuni. Pakde duduk termenung di belakang kapal bersama kayu-kayu yang akan kami antar.

Di tempat itu pakde menangis dan ingin meminta maaf kepada Allah atas dosa-dosa pakde karna pakde terbesit akan mati kelaparan. Lalu pakde meminta maaf kepada laut, langit dan juga bumi. Pakde menangis hingga tertidur. Saat pakde dibangunkan oleh awak kapal ternyata kami sudah sampai di kalimantan. Lalu pakde bertanya kenapa bisa? Apa yang kalian lakukan? Mereka menjawab kami juga tidak tahu Din apa yang terjadi saat malam itu kami pun tertidur sebelum kami tertidur kami berdoa agar di bantu oleh tuhan kami masing-masing dan saat kami terbangun ternyata kita sudah sampai tempat tujuan.

Pakde langsung sujud syukur. Aku terdiam mendengar cerita itu. Lalu pakdeku bertanya kamu percaya ada gunung yang masih aktif namun gunung itu berada di dasar laut. Aku jawab ia aku percaya. Lalu pakdeku berkata sungguh maha besar Allah ya le lahar yang ada di gunung itu tidak bisa padam oleh air laut walaupun sudah di tenggelamkan. Benar-benar  konsep yang luar biasa yang dibuat Allah ya de. Memang Allah is the best. GUSTI Allah adalah terbaik dari yang paking baik. Begitulah cerita singkat yang dialami olehku di kapal ini. Maha besar Allah atas segala Cinta dan Kasih sayangnya.
Selat sunda, 22 Desember 2015
Sujud syukur ku padamu Gusti.
Rahmat Rama Respati.

Suara Rindu

Sejujurnya aku malu menulis tentang rindu karna pemahamanku tentang rindu dan cinta tidaklah banyak tetapi aku tak tahu dengan cara apa lagi aku harus menyalurkannya agar tidak membuat batin ini meledak dan jiwa ini gila karna tak mampu untuk menopangnya.

Bang Reno Azwir adalah satu sosok yang aku tak pernah bisa untuk mengatakan rindu kepadanya.

Rindu aku ingin memeluknya,

Rindu akan suaranya,

Rindu akan tegurannya,

Rindu akan ajakannya,

Rindu makan bersama,

Rindu berbincang-bincang dengannya,

Rindu melihatnya tersenyum,

Rindu akan pola pikirnya yang membuatku tercengang dan sadar akan diri ini sudah seperti bantar gebang,

Rindu akan harum badannya,

Rindu menciumnya

Rindu... Rindu... Rindu... dan Aku benar-benar merasakan Rindu

Bahkan di hadapanmu aku tak pernah berfikir bagaimana orang memandangku saat ku bersamamu.

Rasa hina, tak bisa apa-apa, sebusuk apa aku bahkan tak pernah ku fikirkan.

Aku buta, aku tuli, aku gagu, bahkan perasaanku lumpuh jika bersamamu.

Yang aku tahu hanyalah ingin melayanimu, ingin membuatmu selalu tersenyum, ingin membuatmu tak merasa malu dekat dengan diriku.

Memang tak bisa ku pungkiri memendam cinta atau rindu sangatlah berat untukku.

Hati ini seperti ingin meledak melebihi ledakan big bang atau supernova.

Memang terlalu berlebihan jika ku menuliskan ini tapi inilah rasa yang ku pendam selama ku tahu mengenalmu juga bagian bahagianya diriku.

Saat abang sedang sakit atau tidak enak badan aku hanya berdoa kepada Allah jika memang bisa aku meminta sesuatu kepadamu ya Allah maka aku ingin meminta pindahkanlah sakit itu kepadaku.

Itulah yang aku panjatkan.

Aku tau badanku sangatlah lemah bahkan dingin aku tak kuat, selalu kalah dengan yang lain tentang nafas, tubuhku sangat kurus, tenagaku tak sebesar yang lain, dan daya tahan tubuhku sangatlah lemah hingga gampang terserang penyakit.

Aku sadar akan hal itu tapi saat ku melihat abang sakit dan tak tersenyum itulah yang tak bisa ku tahan. Diriku menjadi lemah selemah-lemahnya dan seperti aku gagal menjadi bermanfaat untuk abang.

Aku sebenarnya ingin menangis jika mengucapkan kata-kata terimakasih dan maaf kepada abang.

Kesabaran abang dan apapun yang abang berikan sungguh bermanfaat untukku untuk hidupku yang sudah terlanjur carut-marut.

Bang Reno Azwir, aku bahagia sekali saat suatu pagi hari yang cerah aku di berikan ktp abang untuk sidang, dan saat aku minta ke istri abang untuk memfoto copy ktp foto copyan ktp abang lalu menyimpannya baik-baik dalam dompetku dan aku taruh bersama beberapa kertas yang ada tanda tangan abang dan doaku jangka panjang maupun jangka pendek kepada Allah.

Berkat abang aku bisa mengetahui inilah salah satu pemahaman dari cinta juga rindu yang harus ku tanam.

Sempat terpikir bahwa kita tidak boleh ada kemelekatan untuk apapun, dan sempat terpikir juga jika aku seperti ini apa tidak memberatkan abang untuk belajar karna abang pernah berbicara memikirkan kami satu persatu. Bang memang aku paling bodoh, aku paling gak peka, aku paling lemah, aku paling hancur, aku tak pernah bisa diandalkan oleh abang dan aku paling buruk dibandingkan yang lain tapi tolong ijinkan aku untuk merindukanmu dalam batinku.

Bang terimakasih telah menjadi perantara rinduku kepada Allah.

Bagiku jika Rindu itu tersembunyi maka cinta itu adalah rahasianya.

Dan jika aku berbicara aku merindukan abang maka rahasiaku adalah aku cinta abang.

Maaf aku telah menyerah pada rinduku bang.

Telah kalah untuk menyimpan rindu ini...

Depok, Nusantara, 13 Januari 2016

Tentang Rasa

MencintauMu adalah anugerah terindah yang pernah ku dapatkan selama hidupku.

Dan merinduMu adalah awal mula dari persoalan kesakitan yang selalu ku derita.

MengenalMu adalah bibit atau bekal permulaan perjalanan rindu.

MeyakinkanMu adalah awal mula ketiadaanku.

Berserah kepadaMu adalah kekalahan terbesar diriku.

MelihatMu adalah awal mula kesaksianku.

Merasakan kehadiranMu adalah terdiamnya sendi dan otot tubuhku.

Terbaring bersamaMu adalah awal dari kebahagiaanku.

Menyatu denganMu adalah akhir dari diriku.

Ya Allah tolonglah ajari dan bantulah dIri yang kotor ini untuk terus menundukkan kepalaku untuk terus mencium tanah.

Tak ada kuasa bagiku dan tak ada kehendakku untuk tidak kembali kepadaMu.

Jadikan aku sebagai kekasihMu.

Ajarkan dan berikan kekuatan untukku menikmati rasa sakit yang terus berkepanjangan ini.

Hanya denganMulah aku mampu dan Tanya karenaMulah seketika aku tak mampu.

Olah Suluk 1 Desember 2015

Nikmat mu yang tersembunyi di Bandung.


Kata Bandung berasal dari kata bendung atau bendungan karena terbendungnya sungai Citarum oleh lava Gunung Tangkuban Perahu yang lalu membentuk telaga. Legenda yang diceritakan oleh orang-orang tua di Bandung mengatakan bahwa nama Bandung diambil dari sebuah kendaraan air yang terdiri dari dua perahu yang diikat berdampingan yang disebut perahu bandung yang digunakan oleh Bupati Bandung, R.A. Wiranatakusumah II, untuk melayari Ci Tarum dalam mencari tempat kedudukan kabupaten yang baru untuk menggantikan ibukota yang lama di Dayeuhkolot.

Berdasarkan filosofi Sunda, kata Bandung juga berasal dari kalimat Nga-Bandung-an Banda Indung, yang merupakan kalimat sakral dan luhur karena mengandung nilai ajaran Sunda. Nga-Bandung-an artinya menyaksikan atau bersaksi. Banda adalah segala sesuatu yang berada di alam hidup yaitu di bumi dan atmosfer, baik makhluk hidup maupun benda mati. Sinonim dari banda adalah harta. Indung berarti Ibu atau Bumi, disebut juga sebagai Ibu Pertiwi tempat Banda berada.

Dari Bumi-lah semua dilahirkan ke alam hidup sebagai Banda. Segala sesuatu yang berada di alam hidup adalah Banda Indung, yaitu Bumi, air, tanah, api, tumbuhan, hewan, manusia dan segala isi perut bumi. Langit yang berada di luar atmosfir adalah tempat yang menyaksikan, Nu Nga-Bandung-an. Yang disebut sebagai Wasa atau SangHyang Wisesa, yang berkuasa di langit tanpa batas dan seluruh alam semesta termasuk Bumi. Jadi kata Bandung mempunyai nilai filosofis sebagai alam tempat segala makhluk hidup maupun benda mati yang lahir dan tinggal di Ibu Pertiwi yang keberadaanya disaksikan oleh yang Maha Kuasa.

Kota Bandung secara geografis memang terlihat dikelilingi oleh pegunungan, dan ini menunjukkan bahwa pada masa lalu kota Bandung memang merupakan sebuah telaga atau danau. Legenda Sangkuriang merupakan legenda yang menceritakan bagaimana terbentuknya danau Bandung, dan bagaimana terbentuknya Gunung Tangkuban Perahu, lalu bagaimana pula keringnya danau Bandung sehingga meninggalkan cekungan seperti sekarang ini. Air dari danau Bandung menurut legenda tersebut kering karena mengalir melalui sebuah gua yang bernama Sangkyang Tikoro.

Daerah terakhir sisa-sisa danau Bandung yang menjadi kering adalah Situ Aksan, yang pada tahun 1970-an masih merupakan danau tempat berpariwisata, tetapi saat ini sudah menjadi daerah perumahan untuk pemukiman.

Kota Bandung mulai dijadikan sebagai kawasan pemukiman sejak pemerintahan kolonial Hindia-Belanda, melalui Gubernur Jenderalnya waktu itu Herman Willem Daendels, mengeluarkan surat keputusan tanggal 25 September 1810 tentang pembangunan sarana dan prasarana untuk kawasan ini. Dikemudian hari peristiwa ini diabadikan sebagai hari jadi kota Bandung.

Kota Bandung secara resmi mendapat status gemeente (kota) dari Gubernur Jenderal J.B. van Heutsz pada tanggal 1 April 1906 dengan luas wilayah waktu itu sekitar 900 ha, dan bertambah menjadi 8.000 ha pada tahun 1949, sampai terakhir bertambah menjadi luas wilayah saat ini.

Pada masa perang kemerdekaan, pada 24 Maret 1946, sebagian kota ini dibakar oleh para pejuang kemerdekaan sebagai bagian dalam strategi perang waktu itu. Peristiwa ini dikenal dengan sebutan Bandung Lautan Api dan diabadikan dalam lagu Halo-Halo Bandung. Selain itu kota ini kemudian ditinggalkan oleh sebagian penduduknya yang mengungsi ke daerah lain.

Pada tanggal 18 April 1955 di Gedung Merdeka yang dahulu bernama Concordia, Jl. Asia Afrika, sekarang, berseberangan dengan Hotel Savoy Homann, diadakan untuk pertama kalinya Konferensi Asia-Afrika yang kemudian kembali KTT Asia-Afrika 2005 diadakan di kota ini pada 19 April-24 April 2005.

Pada tanggal 24 April 2015, Konferensi Asia-Afrika kembali diadakan di kota ini setelah tanggal 20 April-23 April 2015 berlangsung di Jakarta. Mungkin inilah salah satu alasan dahulu kota bandung ini ingin dijadikan sebagai ibukota Indonesia dilihat dari  pemaknaan kata indunv yang terdapat pada pemenggalan kata Bandung yaitu kata indung mempunyai arti sebagai ibu/bumi. Dan tertanggal 15 Januari 2016 aku mendapatkan sebuah ajakan yang mulia dari sang ke kasih Allah untuk menemani perjalanan beliau beserta keluarganya.

Sesampainya kami disana sungguh sangatlah indah suguhan yang di berikan Allah kepadaku aku mendapatkan satu pelajaran yang sangat berharga dari membuat kebahagiaan di dalam keluarga. Kasih sayang selalu Allah berikan untuk selimut di keluarga sang kekasih Allah saat itu. Memang walau hanya menjaga anak-anaknya dan stand by bila istri atau anak-anaknya membutuhkan aku.saat itu terik matahari mewarnai kami yang merjalan berdua bersama anaknya sang kekasih untuk mencari makan. Saat itu kami mendapatkan makanan nasi kuning. Setelah kamu makan tetiba saat perjalanan menuju tempat rapat istri beliau, salah satu anaknya berbicara kepadaku "Om Rama maafin Cyra ya Om kalau Cyra makannya gak habis. Soalnya Cyra gak mau sakit perut, jadi Cyra  makannya berhenti sebelum perut Cyra sakit maaf ya Om udah buat Om Rama jadi kekenyangan."

Mendengar ucapan itu aku pun langsung tersentak memang Allah mengingatkanku dari sisi yang tak pernah bisa ku duga atau prediksi kan. Seusai Rapat kami melanjutkan perjalanan menuju Salah satu Hotel yang bernama Palais Hotel. Palais artinya adalah istana. Jika ku hubungkan dengan arti nama Bandung bisa diartikan bahwa istananya dunia terdapat pada cinta dan segalanya yang ada di seorang ibu.

Beliau mendapatkan no 108 dan diluar dugaan lagi kami pun di pesankan 1 kamar yaitu di staff Only. Aku sangatlah senang tak kusangka manusia sebejat diriku saja apa pantas menerima perhatiannya? Sedangkan apa bisa ku aku selalu saja berpikir selalu putus tak pernah melakukannya 24 jam. Padahal beliau juga yang menyuruh untuk tetap selalu berpikir. Hingga-hingga aku ya hanya bisa semaksimalku membantunya dan mengabdi padanya walau untukku selalu saja ada setitik kesalahan yang aku perbuat.

Pagi telah tiba ada pesan yang masuk ke selularku yang berisi "Kok kalian ga ada yang breakfast? Kayaknya ada jatahnya deh. Entah buat buat satu orang atau dua." Berbunga-bunga lagi hatiku dibuatnya. Dengan perhatian yang mungkin sudah terbilang lazim menurut kalangan umum tetapi bagiku itu bukanlah sebuah perhatian yang lazim untukku. Sepanjang berangkat hingga pulang aku hanya terus-menerus intropeksi diri.

Hingga saat ku sudah membawa kupon untuk menukarkannya untuk makan beliau memastikan sendiri aku makan. Ya Allah sungguh kurang ajar nya diriku htak tahu di untung ternyata. Dalam batinku terbesit satu rasa jika memang aku di ijinkan memiliki uang yang cukup banyak maka aku ingin teraktir biaya hidup sang kekasih Allah bersama keluarganya itu selama di Bandung.namun saat ini aku sadar bahwa diriku belum mampu bermanfaat bahkan untuk sang kekasih.

Tibalah waktu kami untuk berjalan kaki saat car free day di kota itu. Saat kami sedang berjalan menyusuri jalan menuju salah satu kampus ternama di kota itu, kami melihat beberapa pertunjukan yaitu chearsleaders yang di lempar tinggi ke udara. Disaat itulah aku merenungi bahwa sebenarnya memang aku masih berada dalam pose awang-awang tanpa satu kejelasan pasti.

Dan di pertunjukan lain aku tahu bahwa membuat hidupku bahagia yaitu seberapa pentingkah dan dibutuhkan sebutuh apa diriku di masyarakat atau makhluk ciptaanNya. Saat itu aku senang sekali melihat beliau dan keluarganya tersenyum dan bahagia.

Dan saat kejadian didalam kampus ternyata aku kurang ajar lagi saat aku tahu air minum tumpah. Tetapi malah Beliau lah yang rela membersihkannya. Saat itu aku tak bisa berbuat apapun karena aku sedang memangku anaknya yang bernama Sunda.

Setelah kami berkunjung di salah satu kampus ternama di kota Bandung lalu kami menuju toko yang bernama Kartika sari. Kartika sari mempunyai arti "Bulan yang indah." Dan saat ku renungkan ternyata bukan hanya terang saja menjadi indah bahkan gelampun bisa menjadi indah.di dalam kartika sari itu beliau dan sang istrinya tak pernah ada perhitungan dan takut tentang permasalahan uang. Mungkin yang ada dalam benak beliau dan istrinya adalah membahagiakan anak-anaknya.

Bunga pun tumbuh kembali saat beliau membelikan aku dan sedulurku snack. Masih teringat juga atau segala pengertian yang sering salah dalam memahami. Dan setelah itu kami menuju hotel untuk beristirahat.

Pukul setengah empat sore kami mengantarkan Beliau ke tempat rapat di salah satu cafe terkenal di kota Bandung. Setelah kami mengantarkan beliau menuju cafe tempat rapatnya kami menemani keluarganya untuk jalan-jalan ke taman Cikapudung. Di taman itu aku melihat tulisan Urang pikanyah cikapudung nu agung. Ternyata mempunyai arti Saya sayangi cahaya kepada ibu yang terhormat dan agung. Di taman itu kami melihat air mancur yang berwarna-warni diiringi dengan beberapa putaran lagu. Saat itu aku melihat ternyata semua orang tersenyum bahagia tanpa memikirkan sedikit beratnya hidup mereka masing-masing. Dan memang bila berada dalam Ridho sang ibunda maka beban itu seperti menguap dan hilang dengan sendirinya.

Seusai kami mengitari taman dan melihat pertunjukan tarian air, kami kembali ke hotel.setelah kami mengantarkan keluarga beliau kami pun berangkat kembali menjemput beliau di cafe tempat ia rapat. Aku senang ternyata kami ontime. Dan saat kami mengawal beliau menuju mobil aku bahagia sekali dapat mencium aroma tubuhnya yang sangatlah harum. Sungguh bahagianya aku malam minggu bersama kekasih Allah.

Kenikmatan atas rezeki pemberian Gusti Allah tidak cukup hanya sampai disitu saja ternyata masih saja kami diberikan rezeki hidangan bebek goreng dengan rasa enak sekali. Terimakasih ku panjatkan kepadaMu Gusti Allah. Setelah kami makan kami beristirahat. Lalu kami keesokan harinya kembali menuju jakarta sekitar pukul 12.00 WIB. Dan keanehan terjadi aku merasakan perputaran waktu melambat. Dan ternyata memang benar telah melambat. Kami hanya menempuh perjalanan sampai Depok hanya satu setengah jam saja. Waktu yang tak masuk logika. Tetapi memang itulah kebahagiaanku di paparkan dan di sajikan oleh Gusti Allah secara ajaib dan tak diduga-duga.

Terimakasih ya Allah aku tak mampu berbuat apapun kecuali aku bersujud dan mengucapkan syukurku di sujudku kepadaMu Gusti Allah.
Omah Suluk, 19 Januari 2016

Sabtu, 16 Januari 2016

Engkaulah Cerminan Sang Ilahi

Mama, mama, dan mama. Tak ada kata yang tepat bisa kutuliskan tentangnya. Karena jika kutuliskan, hanya tanda titik saja lah yang bisa mewakilinya. Mengapa hanya perlu tanda titik untuk melengkapi semuanya? Karena sosok mama tak dapat terganti seperti tanda titik yang takkan terganti bila menulis atau menggambar sesuatu. Titik itulah awal perjalananku di dunia.
Memang terasa amat sangat menyakitkan untuk merawat rasa rindu ini, Ma. Tapi rasa rindu lah yang membuatku selalu mengingatmu dalam hidupku. Engkau salah satu manusia yang paling berharga untukku. Bahkan kurasa di dalam hatimu hanya ada rasa cinta, rindu, kasih dan sayang bagi kami anak-anakmu. Paras wajahmu yang membuat mataku menjadi jernih, keelokan tubuhmu membuatku berada dalam dalam sangkar hati. Keterampilanmu membuatku terjebak dalam pusaran rasa. Suaramu membuatku meneteskan air mata dan langkahmu membuatku berdiri tegak.
Tak ada yang mampu berkorban sepertimu. Saat aku bandel, engkau hanya tersenyum dan menepuk-nepuk pantatku. Saat aku menangis, engkau mampu menjadi tempatku bersandar. Saat aku sedang marah, engkau mampu menciumku tanpa rasa benci. Saat aku sedang tertawa engkau mampu membuatnya lebih bahagia walau engkau sedang sedih. Engkau adalah aktor yang sangat hebat yang berada di atas panggung. Aktor yang sedang memainkan skenario dari Gusti Allah. Aku rasa engkau tak pernah membuatku tidak nyaman bila di dekatmu. Bahkan saat jauh seperti ini pun, engkau mampu membuat rasa nyaman yang membuatku tetap bersemangat dan selalu bersyukur pada Gusti Allah. Engkau laksana cerminan dari Sang Maha Penyayang dan kekasih-Nya, Baginda Nabi Muhammad Saw.

Aku tak pernah malu menyebut dan membanggakanmu di manapun kakiku berpijak. Aku tak peduli bagaimana perawakanmu, bagaimana sifatmu, bagaimana keahlianmu, dll, tetap engkau adalah mama untukku. Tak bisa kugantikan posisimu dalam benakku. Sepanjang hidupku yang kutahu engkau lah salah satu dari banyak makhluk berhati paling lembut yang pernah kutahu.

Aku jadi teringat waktu dulu saat engkau terbaring di atas kasur rumah sakit. Padahal engkau telah kehilangan hal yang sangat berharga, rahim. Namun engkau tetap tersenyum di depanku. Jelang adzan Subuh, tepat dimana hari kelahiranku, Mama mencoba berbicara, "selamat hari ulang tahun, Mas."
Padahal Mama sedang terbaring tak berdaya, bahkan bernafas pun sulit bagimu. Tapi Mama masih menyempatkan waktu tuk mengucapkan selamat ulang tahun kepadaku.

Dari saat itulah aku ingin mati saja. Karena selama ini aku tak mampu memberikan yang terbaik dan tidak mampu membuat Mama tersenyum, juga bangga padaku. Aku selalu menolak permintaan tolong mama saat aku sedang asyik dalam duniaku. Dunia yang aku ciptakan sendiri. Lalu dimana baktiku kepadamu jika begitu perilaku yang selalu kulakukan? Dimana tanda cinta, rindu, kasih serta sayangku kepadamu? Entah mengapa belakangan ini sejak tragedi perpisahan mama & papa, aku baru tahu bagaimana rasa rindu dan dimana seharusnya kutempatkan ia dalam diriku--juga dalam hidupku.

Saat ini aku hanya ingin Mama tahu aku selalu merindumu, sepi dalam ramai, ramai dalam sepiku. Ma, seandainya aku harus mengorbankan nyawa demi membuat mama tersenyum, aku ikhlas.

Ridhailah dimanapun aku menghembuskan nafas. Karena aku tak tahu lagi dimana harus kucari ridho seperti ridhomu itu. Ma, aku sedang belajar menjadi kekasih Allah. Aku berpikir mungkin hanya ini yang mampu kulakukan agar senyumanmu kembali menghiasi wajah meronamu itu, Ma.

Aku ingin Mama tahu, aku selalu tersiksa oleh rindu yang selalu datang. Aku juga ingin Mama tahu, aku ingin memakan masakan yang Mama buat dengan segenap cinta dan kasih sayang. Ma, aku ingin selalu memeluk mama.

Sebenarnya aku terus menangis jika rindu yang menyakitkan itu datang. Aku cinta mama. Aku sayang mama. Ma, ma, ma, ma, ma... Ma. Terimalah sembah sungkem anakmu ini. Tersenyumlah sejujur-jujurnya untukku.

I love you and i miss you, Ma.

Salam hormat anakmu,
Rahmat Rama Respati.

Omah Mangkat, 29 Desember 2015

Sepucuk Surat CahayaMu.


   Hari ini sudah masuk pukul 23.35 hari Kamis 6 Agustus 2015 kami mendapatkannya. Surut Cinta yang menggetarkan hatiku juga membuatku merinding dan tak tahu apa yang aku rasakan saat ini. Aku hanya bisa mengucapkan Alhamdulillah yang sangat dahsyat. Karena untukku ini surat cinta yang pertama kalinya dalam hidupku. Aku yang sedang terduduk di sebuah ruangan yang tak lebar juga tak sempit. Ruangan dengan cahaya putih terang dari sang lampu. Dengan menggunakan baju biru, sarung kotak- dengan perpaduan warna biru muda, merah tua, putih juga dengan list biru keungu-unguan dan menggunakan peci bercorak warna cream dan hitam.
   Akupun tak tahu apa yang terjadi denganku dan apa yang sedang aku rasakan. Aku juga tak tahu apa alasannya mengapa aku juga ikut dalam lingkaran hari Kamis, tanggal 6 Agustus 2015, jam 23, dan menit ke 35. Aku duduk dekat pintu masuk ruangan itu, di samping kananku salah satu temanku Ijal, disamping kiriku Mas Eko dan di hadapanku Bang reno yang ingin berbicara tentang isi Surat Cinta DariNya. Saat-saat yang indah sekali.
   Memang semua ini adalah sesuatu kebahagiaan yang sedang aku rasakan. Tetapi aku seperti tak pantas untuk menerimanya. Bukan aku bermaksud untuk menolaknya tetapi disisi lain dari diriku adalah sebuah sisi yang sangat gelap bahkan aku sendiri sedang mencari penerangnya. Dulu sempat aku temukan alat penerang itu tetapi ternyata itu hanyalah fatamorgana yang mengkaburkan pandanganku.
   Aku seperti tak percaya namun aku percaya dan itu terjadi. Bukannya aku meragukan tetapi aku yang sangatlah kotor bisa memasuki kesempatan yang jarang orang-orang mendapatkannya. Ya Allah, Subhannallah sungguh engkau tak pernah memandang bulu engkau begitu pemurah, engkau begitu percaya engkau begitu penyayang dan engkau adalah maha segalanya dari segalanya.  Memang tak penting air mata seseorang yang kotor ini telah tumpah keluar bagian mataku, tetapi entah ini adalah bagian dari bahagia atau kesedihan atau penyesalan atau apapun lah yang jelas aku tak tahu tentang rasa ini. Rasa yang baru pertama kali aku rasakan. Ya Allah terima kasih sujud sukurku ingin menjadi hambamu di berikan kesempatannya.
   Maafkan hambamu yang begitu kotor ini terus meminta, meminta dan meminta tak kenal memberimu sebuah mungkin tak pantas untuk di ucap sebagai hadiah tapi inilah aku sekarang. Aku malu sungguh benar-benar malu atas kondisiku saat ini yang begitu kotor, kotor dan kotor hingga tak terlihat setitikpun bagian yang bersih. Sudah 1 hari dari surat cinta itu diturunkan aku selalu saja menangis bila menulis cerita ini.
   Maafkan aku, maafkan aku, maafkan aku, maafkan aku, maafkan aku, maafkan aku, maafkan aku, maafkan aku, maafkan aku, maafkan aku, maafkan aku, maafkan aku, maafkan aku, maafkan aku, maafkan aku ya Allah. Engkau yang selalu memperdulikanku, memperhatikanku, memaafkanku, baik kepadaku, menemaniku, mengawasiku dan Engkaulah yang selalu memberikan yang seharusnya terbaik untukku. Tetapi itu semua selama ini aku tak menghiraukannya, aku tak menganggapMu ada, aku yang selalu menjalankan laranganMu, aku yang selalu menduakanMu, aku yang tak mengenaliMu, aku yang tak mempercayaiMu, aku yang tak menyayangiMu, bahkan aku yang tak mencintaiMu. Itu semua terjadi kurang lebih 23 tahun aku melakukannya. Aku melakukannya ya Allah.
   Terima kasih terima kadih dan aku tak tahu lagi harus mengatakan apa pada tulisanku ini. Terimakasih telah memberiku kesempatan untuk dekat Denganmu walau aku sekarang sangatlah terlalu dan begitu kotor. Bahkan ada satu fikiranku yang terlintas yaitu bila aku tahu rasanya seperti itu aku ingin memilih untuk tetap didekatmu aku tak mau jauh dariMu. Namun aku mengang manusia yang benar-benar pelupa atau apalah itu namanya, selalu, selalu dan selalu luput dari kesalahan-kesalahanku untuk tetap Mengingatmu dalam setiap tarikan nafasku. Ajarkan aku cara mencintaiMu ya Allah. Sudah dulu ya mungkin ya itulah yang terjadi dalam kisahku di pukul 23.35 hari kamis 6 Agustus 2015.

Maafkan Aku....
Rahmat Rama Respati
Omah Suluk 02.32
9 Agustus 2015

Dentuman Penyesalanku


Rahmat Rama Respati
Depok, Nusantara, 15 Januari 2016

Bunyi kencang terdengar di telingaku
Sekejap semua berhenti dariku

Seolah otakku terhenti berfikir tentang penjajah
Mengapa tak melihat pengalaman tentang penjajah

Waktu 360 tahun menjadi hilang begitu saja karna kebodohanku.
Waktu 360 tahun ku sia-siakan dengan kematian sangitku

Seharusnya aku belajar terlebih dahulu pada catatan kaki Nusantara
Seharusnya aku melihat rekaman Nusantara saat kedatangan tamu negara lain

Kini semua hanya menghela nafas kerinduan aku ulangan dimasa hidupku
Kini semua kerinduanku menjadi terawang-awang bersamaku

Ternyata prasangkaku menjebak keyakinanku
Dan keyakinan ku menjebak diriku

Dalam ruang awang-awang ku panjatkan sebuah syair penyesalan yang teramat dalam
Dalam ruang awang-awang ku saksikan bertiga secara langsung efek senyuman tragedi yang telah ku lakukan.

Dan akhirnya aku menunggu terdiam dalam ruang ini
Dan hanya menunggu untuk rengkarnasi atau menghilang ditelan sang waktu.