Selasa, 19 Januari 2016

Nikmat mu yang tersembunyi di Bandung.


Kata Bandung berasal dari kata bendung atau bendungan karena terbendungnya sungai Citarum oleh lava Gunung Tangkuban Perahu yang lalu membentuk telaga. Legenda yang diceritakan oleh orang-orang tua di Bandung mengatakan bahwa nama Bandung diambil dari sebuah kendaraan air yang terdiri dari dua perahu yang diikat berdampingan yang disebut perahu bandung yang digunakan oleh Bupati Bandung, R.A. Wiranatakusumah II, untuk melayari Ci Tarum dalam mencari tempat kedudukan kabupaten yang baru untuk menggantikan ibukota yang lama di Dayeuhkolot.

Berdasarkan filosofi Sunda, kata Bandung juga berasal dari kalimat Nga-Bandung-an Banda Indung, yang merupakan kalimat sakral dan luhur karena mengandung nilai ajaran Sunda. Nga-Bandung-an artinya menyaksikan atau bersaksi. Banda adalah segala sesuatu yang berada di alam hidup yaitu di bumi dan atmosfer, baik makhluk hidup maupun benda mati. Sinonim dari banda adalah harta. Indung berarti Ibu atau Bumi, disebut juga sebagai Ibu Pertiwi tempat Banda berada.

Dari Bumi-lah semua dilahirkan ke alam hidup sebagai Banda. Segala sesuatu yang berada di alam hidup adalah Banda Indung, yaitu Bumi, air, tanah, api, tumbuhan, hewan, manusia dan segala isi perut bumi. Langit yang berada di luar atmosfir adalah tempat yang menyaksikan, Nu Nga-Bandung-an. Yang disebut sebagai Wasa atau SangHyang Wisesa, yang berkuasa di langit tanpa batas dan seluruh alam semesta termasuk Bumi. Jadi kata Bandung mempunyai nilai filosofis sebagai alam tempat segala makhluk hidup maupun benda mati yang lahir dan tinggal di Ibu Pertiwi yang keberadaanya disaksikan oleh yang Maha Kuasa.

Kota Bandung secara geografis memang terlihat dikelilingi oleh pegunungan, dan ini menunjukkan bahwa pada masa lalu kota Bandung memang merupakan sebuah telaga atau danau. Legenda Sangkuriang merupakan legenda yang menceritakan bagaimana terbentuknya danau Bandung, dan bagaimana terbentuknya Gunung Tangkuban Perahu, lalu bagaimana pula keringnya danau Bandung sehingga meninggalkan cekungan seperti sekarang ini. Air dari danau Bandung menurut legenda tersebut kering karena mengalir melalui sebuah gua yang bernama Sangkyang Tikoro.

Daerah terakhir sisa-sisa danau Bandung yang menjadi kering adalah Situ Aksan, yang pada tahun 1970-an masih merupakan danau tempat berpariwisata, tetapi saat ini sudah menjadi daerah perumahan untuk pemukiman.

Kota Bandung mulai dijadikan sebagai kawasan pemukiman sejak pemerintahan kolonial Hindia-Belanda, melalui Gubernur Jenderalnya waktu itu Herman Willem Daendels, mengeluarkan surat keputusan tanggal 25 September 1810 tentang pembangunan sarana dan prasarana untuk kawasan ini. Dikemudian hari peristiwa ini diabadikan sebagai hari jadi kota Bandung.

Kota Bandung secara resmi mendapat status gemeente (kota) dari Gubernur Jenderal J.B. van Heutsz pada tanggal 1 April 1906 dengan luas wilayah waktu itu sekitar 900 ha, dan bertambah menjadi 8.000 ha pada tahun 1949, sampai terakhir bertambah menjadi luas wilayah saat ini.

Pada masa perang kemerdekaan, pada 24 Maret 1946, sebagian kota ini dibakar oleh para pejuang kemerdekaan sebagai bagian dalam strategi perang waktu itu. Peristiwa ini dikenal dengan sebutan Bandung Lautan Api dan diabadikan dalam lagu Halo-Halo Bandung. Selain itu kota ini kemudian ditinggalkan oleh sebagian penduduknya yang mengungsi ke daerah lain.

Pada tanggal 18 April 1955 di Gedung Merdeka yang dahulu bernama Concordia, Jl. Asia Afrika, sekarang, berseberangan dengan Hotel Savoy Homann, diadakan untuk pertama kalinya Konferensi Asia-Afrika yang kemudian kembali KTT Asia-Afrika 2005 diadakan di kota ini pada 19 April-24 April 2005.

Pada tanggal 24 April 2015, Konferensi Asia-Afrika kembali diadakan di kota ini setelah tanggal 20 April-23 April 2015 berlangsung di Jakarta. Mungkin inilah salah satu alasan dahulu kota bandung ini ingin dijadikan sebagai ibukota Indonesia dilihat dari  pemaknaan kata indunv yang terdapat pada pemenggalan kata Bandung yaitu kata indung mempunyai arti sebagai ibu/bumi. Dan tertanggal 15 Januari 2016 aku mendapatkan sebuah ajakan yang mulia dari sang ke kasih Allah untuk menemani perjalanan beliau beserta keluarganya.

Sesampainya kami disana sungguh sangatlah indah suguhan yang di berikan Allah kepadaku aku mendapatkan satu pelajaran yang sangat berharga dari membuat kebahagiaan di dalam keluarga. Kasih sayang selalu Allah berikan untuk selimut di keluarga sang kekasih Allah saat itu. Memang walau hanya menjaga anak-anaknya dan stand by bila istri atau anak-anaknya membutuhkan aku.saat itu terik matahari mewarnai kami yang merjalan berdua bersama anaknya sang kekasih untuk mencari makan. Saat itu kami mendapatkan makanan nasi kuning. Setelah kamu makan tetiba saat perjalanan menuju tempat rapat istri beliau, salah satu anaknya berbicara kepadaku "Om Rama maafin Cyra ya Om kalau Cyra makannya gak habis. Soalnya Cyra gak mau sakit perut, jadi Cyra  makannya berhenti sebelum perut Cyra sakit maaf ya Om udah buat Om Rama jadi kekenyangan."

Mendengar ucapan itu aku pun langsung tersentak memang Allah mengingatkanku dari sisi yang tak pernah bisa ku duga atau prediksi kan. Seusai Rapat kami melanjutkan perjalanan menuju Salah satu Hotel yang bernama Palais Hotel. Palais artinya adalah istana. Jika ku hubungkan dengan arti nama Bandung bisa diartikan bahwa istananya dunia terdapat pada cinta dan segalanya yang ada di seorang ibu.

Beliau mendapatkan no 108 dan diluar dugaan lagi kami pun di pesankan 1 kamar yaitu di staff Only. Aku sangatlah senang tak kusangka manusia sebejat diriku saja apa pantas menerima perhatiannya? Sedangkan apa bisa ku aku selalu saja berpikir selalu putus tak pernah melakukannya 24 jam. Padahal beliau juga yang menyuruh untuk tetap selalu berpikir. Hingga-hingga aku ya hanya bisa semaksimalku membantunya dan mengabdi padanya walau untukku selalu saja ada setitik kesalahan yang aku perbuat.

Pagi telah tiba ada pesan yang masuk ke selularku yang berisi "Kok kalian ga ada yang breakfast? Kayaknya ada jatahnya deh. Entah buat buat satu orang atau dua." Berbunga-bunga lagi hatiku dibuatnya. Dengan perhatian yang mungkin sudah terbilang lazim menurut kalangan umum tetapi bagiku itu bukanlah sebuah perhatian yang lazim untukku. Sepanjang berangkat hingga pulang aku hanya terus-menerus intropeksi diri.

Hingga saat ku sudah membawa kupon untuk menukarkannya untuk makan beliau memastikan sendiri aku makan. Ya Allah sungguh kurang ajar nya diriku htak tahu di untung ternyata. Dalam batinku terbesit satu rasa jika memang aku di ijinkan memiliki uang yang cukup banyak maka aku ingin teraktir biaya hidup sang kekasih Allah bersama keluarganya itu selama di Bandung.namun saat ini aku sadar bahwa diriku belum mampu bermanfaat bahkan untuk sang kekasih.

Tibalah waktu kami untuk berjalan kaki saat car free day di kota itu. Saat kami sedang berjalan menyusuri jalan menuju salah satu kampus ternama di kota itu, kami melihat beberapa pertunjukan yaitu chearsleaders yang di lempar tinggi ke udara. Disaat itulah aku merenungi bahwa sebenarnya memang aku masih berada dalam pose awang-awang tanpa satu kejelasan pasti.

Dan di pertunjukan lain aku tahu bahwa membuat hidupku bahagia yaitu seberapa pentingkah dan dibutuhkan sebutuh apa diriku di masyarakat atau makhluk ciptaanNya. Saat itu aku senang sekali melihat beliau dan keluarganya tersenyum dan bahagia.

Dan saat kejadian didalam kampus ternyata aku kurang ajar lagi saat aku tahu air minum tumpah. Tetapi malah Beliau lah yang rela membersihkannya. Saat itu aku tak bisa berbuat apapun karena aku sedang memangku anaknya yang bernama Sunda.

Setelah kami berkunjung di salah satu kampus ternama di kota Bandung lalu kami menuju toko yang bernama Kartika sari. Kartika sari mempunyai arti "Bulan yang indah." Dan saat ku renungkan ternyata bukan hanya terang saja menjadi indah bahkan gelampun bisa menjadi indah.di dalam kartika sari itu beliau dan sang istrinya tak pernah ada perhitungan dan takut tentang permasalahan uang. Mungkin yang ada dalam benak beliau dan istrinya adalah membahagiakan anak-anaknya.

Bunga pun tumbuh kembali saat beliau membelikan aku dan sedulurku snack. Masih teringat juga atau segala pengertian yang sering salah dalam memahami. Dan setelah itu kami menuju hotel untuk beristirahat.

Pukul setengah empat sore kami mengantarkan Beliau ke tempat rapat di salah satu cafe terkenal di kota Bandung. Setelah kami mengantarkan beliau menuju cafe tempat rapatnya kami menemani keluarganya untuk jalan-jalan ke taman Cikapudung. Di taman itu aku melihat tulisan Urang pikanyah cikapudung nu agung. Ternyata mempunyai arti Saya sayangi cahaya kepada ibu yang terhormat dan agung. Di taman itu kami melihat air mancur yang berwarna-warni diiringi dengan beberapa putaran lagu. Saat itu aku melihat ternyata semua orang tersenyum bahagia tanpa memikirkan sedikit beratnya hidup mereka masing-masing. Dan memang bila berada dalam Ridho sang ibunda maka beban itu seperti menguap dan hilang dengan sendirinya.

Seusai kami mengitari taman dan melihat pertunjukan tarian air, kami kembali ke hotel.setelah kami mengantarkan keluarga beliau kami pun berangkat kembali menjemput beliau di cafe tempat ia rapat. Aku senang ternyata kami ontime. Dan saat kami mengawal beliau menuju mobil aku bahagia sekali dapat mencium aroma tubuhnya yang sangatlah harum. Sungguh bahagianya aku malam minggu bersama kekasih Allah.

Kenikmatan atas rezeki pemberian Gusti Allah tidak cukup hanya sampai disitu saja ternyata masih saja kami diberikan rezeki hidangan bebek goreng dengan rasa enak sekali. Terimakasih ku panjatkan kepadaMu Gusti Allah. Setelah kami makan kami beristirahat. Lalu kami keesokan harinya kembali menuju jakarta sekitar pukul 12.00 WIB. Dan keanehan terjadi aku merasakan perputaran waktu melambat. Dan ternyata memang benar telah melambat. Kami hanya menempuh perjalanan sampai Depok hanya satu setengah jam saja. Waktu yang tak masuk logika. Tetapi memang itulah kebahagiaanku di paparkan dan di sajikan oleh Gusti Allah secara ajaib dan tak diduga-duga.

Terimakasih ya Allah aku tak mampu berbuat apapun kecuali aku bersujud dan mengucapkan syukurku di sujudku kepadaMu Gusti Allah.
Omah Suluk, 19 Januari 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.