Sabtu, 16 Januari 2016

Engkaulah Cerminan Sang Ilahi

Mama, mama, dan mama. Tak ada kata yang tepat bisa kutuliskan tentangnya. Karena jika kutuliskan, hanya tanda titik saja lah yang bisa mewakilinya. Mengapa hanya perlu tanda titik untuk melengkapi semuanya? Karena sosok mama tak dapat terganti seperti tanda titik yang takkan terganti bila menulis atau menggambar sesuatu. Titik itulah awal perjalananku di dunia.
Memang terasa amat sangat menyakitkan untuk merawat rasa rindu ini, Ma. Tapi rasa rindu lah yang membuatku selalu mengingatmu dalam hidupku. Engkau salah satu manusia yang paling berharga untukku. Bahkan kurasa di dalam hatimu hanya ada rasa cinta, rindu, kasih dan sayang bagi kami anak-anakmu. Paras wajahmu yang membuat mataku menjadi jernih, keelokan tubuhmu membuatku berada dalam dalam sangkar hati. Keterampilanmu membuatku terjebak dalam pusaran rasa. Suaramu membuatku meneteskan air mata dan langkahmu membuatku berdiri tegak.
Tak ada yang mampu berkorban sepertimu. Saat aku bandel, engkau hanya tersenyum dan menepuk-nepuk pantatku. Saat aku menangis, engkau mampu menjadi tempatku bersandar. Saat aku sedang marah, engkau mampu menciumku tanpa rasa benci. Saat aku sedang tertawa engkau mampu membuatnya lebih bahagia walau engkau sedang sedih. Engkau adalah aktor yang sangat hebat yang berada di atas panggung. Aktor yang sedang memainkan skenario dari Gusti Allah. Aku rasa engkau tak pernah membuatku tidak nyaman bila di dekatmu. Bahkan saat jauh seperti ini pun, engkau mampu membuat rasa nyaman yang membuatku tetap bersemangat dan selalu bersyukur pada Gusti Allah. Engkau laksana cerminan dari Sang Maha Penyayang dan kekasih-Nya, Baginda Nabi Muhammad Saw.

Aku tak pernah malu menyebut dan membanggakanmu di manapun kakiku berpijak. Aku tak peduli bagaimana perawakanmu, bagaimana sifatmu, bagaimana keahlianmu, dll, tetap engkau adalah mama untukku. Tak bisa kugantikan posisimu dalam benakku. Sepanjang hidupku yang kutahu engkau lah salah satu dari banyak makhluk berhati paling lembut yang pernah kutahu.

Aku jadi teringat waktu dulu saat engkau terbaring di atas kasur rumah sakit. Padahal engkau telah kehilangan hal yang sangat berharga, rahim. Namun engkau tetap tersenyum di depanku. Jelang adzan Subuh, tepat dimana hari kelahiranku, Mama mencoba berbicara, "selamat hari ulang tahun, Mas."
Padahal Mama sedang terbaring tak berdaya, bahkan bernafas pun sulit bagimu. Tapi Mama masih menyempatkan waktu tuk mengucapkan selamat ulang tahun kepadaku.

Dari saat itulah aku ingin mati saja. Karena selama ini aku tak mampu memberikan yang terbaik dan tidak mampu membuat Mama tersenyum, juga bangga padaku. Aku selalu menolak permintaan tolong mama saat aku sedang asyik dalam duniaku. Dunia yang aku ciptakan sendiri. Lalu dimana baktiku kepadamu jika begitu perilaku yang selalu kulakukan? Dimana tanda cinta, rindu, kasih serta sayangku kepadamu? Entah mengapa belakangan ini sejak tragedi perpisahan mama & papa, aku baru tahu bagaimana rasa rindu dan dimana seharusnya kutempatkan ia dalam diriku--juga dalam hidupku.

Saat ini aku hanya ingin Mama tahu aku selalu merindumu, sepi dalam ramai, ramai dalam sepiku. Ma, seandainya aku harus mengorbankan nyawa demi membuat mama tersenyum, aku ikhlas.

Ridhailah dimanapun aku menghembuskan nafas. Karena aku tak tahu lagi dimana harus kucari ridho seperti ridhomu itu. Ma, aku sedang belajar menjadi kekasih Allah. Aku berpikir mungkin hanya ini yang mampu kulakukan agar senyumanmu kembali menghiasi wajah meronamu itu, Ma.

Aku ingin Mama tahu, aku selalu tersiksa oleh rindu yang selalu datang. Aku juga ingin Mama tahu, aku ingin memakan masakan yang Mama buat dengan segenap cinta dan kasih sayang. Ma, aku ingin selalu memeluk mama.

Sebenarnya aku terus menangis jika rindu yang menyakitkan itu datang. Aku cinta mama. Aku sayang mama. Ma, ma, ma, ma, ma... Ma. Terimalah sembah sungkem anakmu ini. Tersenyumlah sejujur-jujurnya untukku.

I love you and i miss you, Ma.

Salam hormat anakmu,
Rahmat Rama Respati.

Omah Mangkat, 29 Desember 2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.