Selasa, 19 Januari 2016

Rahmat Dibalik Jeruji Tajam

Ternyata lambat laun ujian yang diberikan kepada ku semakin bertambah. Malam itu perdebatan tak mungkin bisa aku hindari. Memang itu salah ku tak bisa membuat taman bunga yang indah juga mewah di dalam rumahku sendiri. Bagai tanah yang tandus dan retak aku hidup didalamnya.

Sulit untukku merubah padang tanah tandus itu menjadi padang yang hijau sejuk dan dipenuhi bunga -bunga yang indah di setiap sisinya.
Kepanasan dan kekeringan yang melanda keluargaku lambat laun akan berubah, aku yakin akan perubahan itu bila Allah telah mengizinkan aku untuk merubahnya atau hijrah ke daerah yang lebih subur dan hijau. Tatkala bayangan mimpi-mimpi indah dan kelam itu datang bersamaan melewati alam bawah sadar ku. Namun memang tak bisa kupanggil dan tak bisa ku tolak kehadirannya.

Akan tetapi kemungkinan ku mengikuti apa yang datang padaku dan apa yang pergi menjauh dariku bukanlah perkara yang cukup mudah untuk bisa ku lalui. Sebuah mawar hitam yang berduri tajam bagai benalu masih tersembunyi dibalik sisi gelap diriku yang tak bisa ku dustakan, ku pungkiri dan ku anggap tiada. Walau tak pernah jua ku menyiram nya, memberi pupuknya ia akan tetap tumbuh dan bersarang dalam sisi gelap ku bila itu semua atas kehendaknya.

Ku tak berdaya apapun dan ku tak bisa merubah maupun menolak celupan jari jemari Allah. Bila Allah berkehendak memusnahkanku maka aku akan musnah begitupun juga sebaliknya bila Allah menghendaki aku hidup maka aku akan hidup. Hanya itu dan bahkan memang seharusnya begitu yang akan terjadi kepadaku bila aku ingin terus bersamaNya dalam kesepian, keheningan, kekosongan, ketiadaan, ketidak berdayaan, ketidak sanggupan dan ketidak rasaan ku pada kehendaknya. 

Inilah yang ku rasakan kala malam yang mencekam itu.  Saat perkataan aku akan dibunuh oleh ayahku sendiri yang langsung terucap dari lisan papaku. Tercenganglah aku dalam keshokannku mendengar kalimat itu. Apa salah ku hingga menyebabkan papaku dengan sangat mudah berkata itu?

Aku langsung berkaca pada diriku sendiri ternyata aku masih menjadi hina,  munafik, membohongi diriku sendiri, tak mempunyai keyakinan, tidak bermanfaat,  tidak membuat seseorang disekirku bahagia, aku masih ingin seks, aku masih takut, cemas, khawatir, tidak sabar, masih menyia-nyiakan waktu, tidak teguh pada pendirian, tidak ikhlas dalam menerima hal yang terburuk dalam hidupku, amarah yang meledak-ledak, masih menginginkan martabat dimata manusia, masih serba melekat kepada apapun, jiwaku masih tidak tenang,  aku masih tidak pernah bersyukur, ceroboh dalam hal apapundan masih banyak lagi kekuranganku.

Ruhku seperti spon yang terlalu banyak ruang kosong yang tak ada pembatasnya. Bila diisi air tak dapat tertampung tetapi keluar lagi tidak pernah mengendap dan menjadi berlian..namun aku bersyukur karna dengan diberikan ujian ini aku jadi tahu bukan hanya saat aku mendapatkan yang bahagia-bahagia saja aku harus bersyukur kepada Allah,  tetapi saat aku mendapatkan ujian kesulitan pun aku harus tetap bersyukur kepada Allah. Karna dialah yang ada aku tidak ada dan hanyalah dia yang segalanya aku yang tidak segalanya. Sujud syukur ku panjatkan ke Gusti Allah SWT atas pemberian kepercayaan Allah memberikan ujian ini kepadaku.

Depok, 19 November 2015
Omah Mangkat
Terimakasih Dan Maaf kepada Mu Ya Rabku
Rahmat Rama Respati

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.