Selasa, 19 Januari 2016

REVOLUSI DINI

Jum'at (13/11/2015), Bogor Nirwana Residence, Bogor Jawa Barat, Khatulistiwamuda - Sebuah kegiatan tak lazim dilakukan oleh muda-mudi saat libur telah tiba. Disebuah rumah yang terdapat di pedalaman komplek daerah Bogor ini serombongan yang terdiri dari kurang lebih 12 muda-mudi berkumpul untuk belajar pulang dengan bahagia. Mereka seperti bergerak untuk melawan arus kehidupan.  "Kami tidak ingin terlalu jauh dalam jalan yang salah. Oleh karna itu kami berputar dan menerobos kerumunan kebiasaan yang ada diluar diri kami tetapi kami berjalan menuju dalam diri kami untuk menemukan sejatinya cinta", ujar Reno pemimpin rombongan mereka.

Ternyata ini adalah fenomena yang jarang terjadi. Mereka yang masih muda merelakan diri mereka untuk terus menerus menuntut ilmu bukan menghabiskan waktu untuk berwisata ke tempat-tempat hiburan, jalan-jalan, berkuliner, mabuk-mabukan, diskotik atau yang lainnya yang seperti biasa dilakukan muda-mudi di kebanyakan tempat. Mungkin ini yang dimaksudkan menyiapkan regenerasi yang dihitung berdasarkan tiga hal yang sering menjadi semboyan wong jowo yaitu bibit, bebet dan bobot yang benar-benar berkualitas.

Khatulistiwamuda. Itulah nama perkumpulan mereka. Empat tahun sudah eksistensi mereka dalam bidang spiritual, sosial, seni-budaya dan pendidikan, meski masih dalam lingkup regional, kerja mereka selalu tepat pada sasaran. Berdasarkan visi dan misinya, mereka ingin mencerdaskan kehidupan berbangsa. Kegiatan andalan mereka adalah Lokakarya (pelatihan), biasanya mereka sering melakukan setahun dua kali. Selain mengundang pemateri yang kompeten, banyak juga yang tertarik ikut bergabung dengan mereka.

Uniknya dari perkumpulan ini adalah tidak adanya sistem reqruitment, semua anggota yang masuk kedalamnya murni atas keingingan mereka sendiri, dan hanya dikenakan biaya 25.000. Menurut Reno - pendiri Khatulistiwamuda “Biaya itu sebagai mahar dirinya untuk belajar bersama kami.” Bulan November ini mereka merayakan ulang tahun ke Empat. Selama tiga hari, mereka berkumpul di Bogor Nirwana Residence.

Tak ada nasi kuning, kue ulang tahun, hiasan-iasan ruangan, lilin atau kebutuhan ulang tahun. Sangatlah sederhana mereka mengatakan ulang tahun perkumpulan nya dengan duduk melingkar berdiskusi, mengaji dan berbincang - bincang tentang program kedepan yang akan dilakukan mereka. Dahsyat,  hanya itu yang bisa saya katakan untuk mereka para pemuda dan pemudi penerus bangsa yang besar ini bangsa Indonesia.
Biasanya visi dan misi terbuat hanya sebagai hiasan disebuah kertas yang di taruh di bingkai foto dan di letakkan di dinding-dinding tembok organisasi saja tanpa pernah dipertanggung jawabkan, bahkan di baca saja tidak. Tetapi berbeda dengan perkumpulan yang mereka bentuk betul-betul menjadikan itu sebagai suatu pedoman. Berada dalam lingkaran mereka, membuat kami tak habis terkagum-kagum dengan pola pikir mereka yang bebas dan tak terbatas. Pimpinan mereka, justru memberikan keleluasaan penuh pada para anggota untuk mengungkapkan ide-idenya.

Para anggota tidak pernah dibuatkan gembok di sangkar mereka masing-masing. Mereka seperti burung yang berterbangan bebas di langit-langit Nusantara untuk menjadi ujung tombak tanaman-tanaman yang bergantung pada burung untuk membawakan sari-sari bunganya. Yah begitulah mereka para pemuda-pemudi yang hebat. Mereka tak kenal lelah. Itu kamu buktikan selama kami meliput mereka dalam waktu tiga hari itu.
"Memang tidak lama waktu kami untuk berkumpul,  tetapi dalam tiga hari itu kami mendapatkan informasi yang luar biasa yang di ajarkan oleh pemimpin kami. Khusus saya sendiri banyak input yang saya dapatkan untuk bisa mengetahui hidup yang sebenarnya dan yang terpenting saya dapat menemukan diri saya yang selama ini pergi entah kemana. " pengakuan salah satu anggota mereka yang bernama Rama.

Reno—mereka memanggil saya dengan panggilan Bang Reno, saya sengaja membuat kebiasaan ini karena Nabi Muhammad saw. Senang betul duduk seperti itu bersama sahabatnya. Nampaknya, sendiri-sendiri selain mengurusi dunia,ingin saya pribadi ingin mengajak adik-adik Khatulistiwamuda untuk mencintai agamanya dengan langkah pertama mengenal diri mereka sendiri-sendiri. Seorang pemuda berambut pendek yang menggunakan kacamata, warna kulit kuning langsat dan bertubuh tidak terlalu tinggi namun berisi begitulah perwatakan pemimpin dari organisasi yang bernama Khatulistiwa muda ini.
Bagaimana tidak dahsyat organisasi ini tida, bukan hanya anggotanya saja bahkan pemuda yang kerap disapa " Bang Reno" ini menciptakan visi yang luar biasa yang tidak pernah terfikir sebelumnya oleh para revolusioner sebelumnya visi yang dibuatnya adalah " Unify the cityzen of the world ". Ternyata selama tiga hari itu mereka terus saja mengkaji tentang diri sendiri. Sebuah ilmu yang tidak banyak orang tahu dan ingin mempelajarinya.

Banyak dari mereka merasakan betul perubahan dalam dirinya, Vera, Putri, Riska, Dyah, Ae, Rama, Aldhi, Farhan, Ijal, Alvin dan Amir mereka semua mengalami pencapaian perubahan diri yang berbeda-beda untuk menuju ke perubahan yang lebih baik. Sistem yang dibuat oleh pimpinan Khatulistiwamuda ini tak hanya satu arah saja tetapi ia menerapkan sistem dua arah namun tetap tidak membosankan seperti di bangku perkuliahan. Dimana para anggota selain berinteraksi keluar bisa sekalian belajar ke dalam dirinya. Seperti yang diceritakan oleh Reno, sejak masih duduk dibangku sekolah, ia sudah memiliki kegelisahan akan kehidupan di Indonesia. Bagaimana nasib adik-adik dibawahnya kelak, siapa yang akan jadi garda depan ketika bangsa asing mulai menjajah lagi. Sedangkan, sekarang anak-anak muda tak ada yang bisa di andalkan. Sebuah cita-cita yang sangat mulia ditanamkan dalam benaknya itu.
Begitulah laporan yang dapat di ceritakan dari pertemuan mereka selama tiga hari di daerah Bogor.

Senin 16 November 2015, Bogor Nirwana Residence
Respati Reporter koran Janjuki

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.