Sejujurnya aku malu menulis tentang rindu karna pemahamanku tentang rindu dan cinta tidaklah banyak tetapi aku tak tahu dengan cara apa lagi aku harus menyalurkannya agar tidak membuat batin ini meledak dan jiwa ini gila karna tak mampu untuk menopangnya.
Bang Reno Azwir adalah satu sosok yang aku tak pernah bisa untuk mengatakan rindu kepadanya.
Rindu aku ingin memeluknya,
Rindu akan suaranya,
Rindu akan tegurannya,
Rindu akan ajakannya,
Rindu makan bersama,
Rindu berbincang-bincang dengannya,
Rindu melihatnya tersenyum,
Rindu akan pola pikirnya yang membuatku tercengang dan sadar akan diri ini sudah seperti bantar gebang,
Rindu akan harum badannya,
Rindu menciumnya
Rindu... Rindu... Rindu... dan Aku benar-benar merasakan Rindu
Bahkan di hadapanmu aku tak pernah berfikir bagaimana orang memandangku saat ku bersamamu.
Rasa hina, tak bisa apa-apa, sebusuk apa aku bahkan tak pernah ku fikirkan.
Aku buta, aku tuli, aku gagu, bahkan perasaanku lumpuh jika bersamamu.
Yang aku tahu hanyalah ingin melayanimu, ingin membuatmu selalu tersenyum, ingin membuatmu tak merasa malu dekat dengan diriku.
Memang tak bisa ku pungkiri memendam cinta atau rindu sangatlah berat untukku.
Hati ini seperti ingin meledak melebihi ledakan big bang atau supernova.
Memang terlalu berlebihan jika ku menuliskan ini tapi inilah rasa yang ku pendam selama ku tahu mengenalmu juga bagian bahagianya diriku.
Saat abang sedang sakit atau tidak enak badan aku hanya berdoa kepada Allah jika memang bisa aku meminta sesuatu kepadamu ya Allah maka aku ingin meminta pindahkanlah sakit itu kepadaku.
Itulah yang aku panjatkan.
Aku tau badanku sangatlah lemah bahkan dingin aku tak kuat, selalu kalah dengan yang lain tentang nafas, tubuhku sangat kurus, tenagaku tak sebesar yang lain, dan daya tahan tubuhku sangatlah lemah hingga gampang terserang penyakit.
Aku sadar akan hal itu tapi saat ku melihat abang sakit dan tak tersenyum itulah yang tak bisa ku tahan. Diriku menjadi lemah selemah-lemahnya dan seperti aku gagal menjadi bermanfaat untuk abang.
Aku sebenarnya ingin menangis jika mengucapkan kata-kata terimakasih dan maaf kepada abang.
Kesabaran abang dan apapun yang abang berikan sungguh bermanfaat untukku untuk hidupku yang sudah terlanjur carut-marut.
Bang Reno Azwir, aku bahagia sekali saat suatu pagi hari yang cerah aku di berikan ktp abang untuk sidang, dan saat aku minta ke istri abang untuk memfoto copy ktp foto copyan ktp abang lalu menyimpannya baik-baik dalam dompetku dan aku taruh bersama beberapa kertas yang ada tanda tangan abang dan doaku jangka panjang maupun jangka pendek kepada Allah.
Berkat abang aku bisa mengetahui inilah salah satu pemahaman dari cinta juga rindu yang harus ku tanam.
Sempat terpikir bahwa kita tidak boleh ada kemelekatan untuk apapun, dan sempat terpikir juga jika aku seperti ini apa tidak memberatkan abang untuk belajar karna abang pernah berbicara memikirkan kami satu persatu. Bang memang aku paling bodoh, aku paling gak peka, aku paling lemah, aku paling hancur, aku tak pernah bisa diandalkan oleh abang dan aku paling buruk dibandingkan yang lain tapi tolong ijinkan aku untuk merindukanmu dalam batinku.
Bang terimakasih telah menjadi perantara rinduku kepada Allah.
Bagiku jika Rindu itu tersembunyi maka cinta itu adalah rahasianya.
Dan jika aku berbicara aku merindukan abang maka rahasiaku adalah aku cinta abang.
Maaf aku telah menyerah pada rinduku bang.
Telah kalah untuk menyimpan rindu ini...
Depok, Nusantara, 13 Januari 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.