Selasa, 19 Januari 2016

Samudra yang tak berbuih

Aku duduk di tepian kapal sambi menyenderkan badanku ke tiang-tiang pagar kapal. Jujur aku terkesima dengan keindahan laut yang tak terkira. Laut yang nampak tenang namun sejujurnya tidak.

Lautan yang berwarna biru namun bukan airnya yang berwarna biru. Dihiasi dengan garnish pulau-pulau kecil dan beberapa kapal laut.

Aku menikmati sekali pesona alam luar biasa indah yang diciptakan oleh sang maha indah. Dengan telah memasang niat juga berjanji selalu belajar untuk menggunakan waktu agar bermanfaat setiap detiknya, karna itu saat aku terus memandang tegak lurus ke arah kananku, aku tak melihat ada ujung dari samudra ini namun sebenarnya ada ujungnya, entah disudut manapun samudra itu akan selalu ada ujungnya.

Walau aku tau ini hanyalah fana semata, tetapi seperti orang tua akan selalu berbicara kamu ganteng atau cantik sekali si nak, disadari atau tidak semua orang tua pernah berbicara itu kepada anaknya.

Dan orang tua kita itu bisa berbicara memuji seperti itu karna didalam diriku terdapat darahnya. Setelah aku renungi ternyata seperti aku memandang pesona alam yang fana ini lalu aku memujinya karna aku pun dalam 1 lingkup kefanaan yang sama samudra ini.

Jikalau memang begitu untuk hubungan kita dengan sang maha pencipta bisa seperti contoh samudra  yang fana ini dengan aku yang fana ini. Karna sejatinya kita semua itu toh dari Gusti Allah kan? Dan kita semua sebenarnya berbakat berbahagia dan manunggaling Gusti Allah rabbul alamin.

Hanya mau atau tidak. Kalau mau jalani ya kalau tidak pun jalani ketidak mauannya masing-masing. Sama juga seperti buih yang timbul karena ombak atau air laut yang di pecahkan kapal laut, aku yakin air-air ini akan memilih apakah ia akan berbeda zat, bentuk rupa, dan senyawanya dengan air atau tidak.

Jika ia tetap memilih ingin tetap bersama air maka ia harus menjalaninya tetap menyatu dengan air dari perbagai unsur nya. Dan jika ia memilih berpisah maka ia akan berbeda segala jenis unsur apapun.

Berserah se menyerah-nyerahnya kepada Gusti Allah seperti pelastik yang tertiup oleh angin yang membawa ia kemanapun hingga akhirnya ia menyentuh air di samudra. Terimakasih ya Allah engkau maha pengasih dan tentang tak ada apapun yang dapat ku pungkiri atas semua pemberianMu Gusti Allah.

Selat sunda, samudra lepas 20 Desember 2015 11:41 WIB

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.