Aku duduk dibibir kapal yang aku naiki. Sebelum ku berada dibibir kapal dan menulis sebuah cerita ini aku akan bertutur tentang pengalaman yang baru saja ku alami di dalam kapal tepatnya di lantai 3 kapal yang ku naiki. Suara alunan musik dangdut terdengar amat kencang di telingaku lalu ku datangilah ternyata disana terdapat kafe musik live. Tak ketinggalan pasti ada penyanyi dangdutnya yang bernyanyi dan berjoget sesekali penyanyi dangdut itu mendatangi penonton untuk meminta sawerannya.
Memang tak besar uang sawerannya yang ia dapatkan namun saat penyanyi dangdut itu menghampiriku dengan lemah gemulai dan sejuta rayuan ia keluarkan demi mendapatkan uang sasarannya yang memang tak begitu besar. Aku memang berniat memberikan sedikit uang yang ku punya namun sebelum memberikan penyanyi dangdut itu berbicara tentang "mas yang ganteng ayo mas di sedekah kan sedikit rizkinya untuk menyawerku." Aku sempat terdiam dan tercengang mendengar kalimat yang ia ucapkan.
Bukan di kalimat mas yang ganteng tetapi di kalimat menyedekahkan sedikit rizkinya untuk menyawerrnya. Lalu aku bertanya kepadanya " mbak kok menyedekahkan sedikit rizki yang ku punya? Maaf jika saya boleh tahu dari mana asal mbak?" Perempuan itu menjawab " saya dari caruban mas. Ia menyedekahkan kepada ku karna aku kan termasuk golongan fakir miskin. " aku berbicara lagi "mengapa mbak tidak malu untuk berbicara mbak golongan fakir miskin? Oh dari caruban toh saya pernah memainkan naskah teater berjudul sobrat."
Lalu perempuan itu menjawab lagi " ia karna yang saya tahu dari diri saya dan hidup saya adalah orang miskin buktinya apa bedanya saya dengan pengemis? Hanya bermodal suara saja. Yang saya tahu dari diri saya hanyalah seperti ini. Walaupun begini diri saya tetapi saya cukup bahagia menjalaninya dan yang saya tahu tuhan saya maha penyayang. " saat perempuan itu berbicara seperti itu aku merasa terpukul perempuan itu meyakini bahwa tuhannya maha penyayang dan karna tuhannya maha penyayang maka ia akan disayang.
Waw pelajaran yang sangat berharga bahkan dari skup yang tidak terfikirkan olehku nikmat yang telah diturunkan. Dan perempuan itu mampu mengetahui lagu-lagu apa yang disukai oleh penontonnya. Yah setelah itu aku memberikan hak sawerannya. Setelah itu dia berbicara terimakasih ya tuhan terimakasih ya mas karna baru mas yang memberikan sawerannya paling banyak malam ini. Seorang perempuan mengenakan pakaian yang begitu seksi hingga lekuk tubuhnya terlihat dengan jelas bisa mensyukuri nikmat yang telah di berikan oleh tuhannya. Subhanallah.
Setelah itu aku pergi ke bibir kapal. Di sana aku bertemu pakdeku yang sedang merokok sambil meminum kopi. Lalu pakdeku memanggilmu untuk menemaninya. Angin yang kencang menerpa badanku bahkan saking kencangnya sesekali aku hilang keseimbangan. Kami berdua duduk di pelatarannya. Entah ada angin apa pakdeku menceritakan pengalamannya berlayar waktu dulu dari semarang hingga kalimantan. Yang ia katakan adalah sangat menyeramkan berada ditengah-tengah laut selama 3 hari 2 malam.
Dan tidak pernah berjumpa kapal tidak melihat pulau yang pakde lihat hanyalah air laut dan langit. Pakde sempat menangis saat malam tiba terasa gelap menyelimuti kapal kami. Pakde bersama awak kapal tidak bisa melakukan apapun kecuali terus berlayar mengikuti arah kompas. Di malam yang kedua dilallah kompas kami rusak dan kami kehilangan arah. Disitulah pakde belajar tentang berserah le. Allah maha pemurah maha penolong bagi hambanya yang ingin ditolong olehNya. Disitulah pakde membuktikan Allah maha besar kamu tahu apa yang terjadi pada kami? Aku menjawab tidak pakde.
Lalu pakde ku bercerita kembali. Kami sepakat akan terus berjalan hingga menemukan pulau yang berpenghuni. Jika kami menemukan pulau kami mencari kompas untuk melanjutkan perjalanan. Malam itu pukul 12.00 kami menemukan pulau namun tak berpenghuni lalu kami berjalan kembali kami tidak patah arang untuk mencari pulau itu. Namun tak jua kami temukan akhirnya kami patah arang menemukan pulau yang berpenghuni. Pakde duduk termenung di belakang kapal bersama kayu-kayu yang akan kami antar.
Di tempat itu pakde menangis dan ingin meminta maaf kepada Allah atas dosa-dosa pakde karna pakde terbesit akan mati kelaparan. Lalu pakde meminta maaf kepada laut, langit dan juga bumi. Pakde menangis hingga tertidur. Saat pakde dibangunkan oleh awak kapal ternyata kami sudah sampai di kalimantan. Lalu pakde bertanya kenapa bisa? Apa yang kalian lakukan? Mereka menjawab kami juga tidak tahu Din apa yang terjadi saat malam itu kami pun tertidur sebelum kami tertidur kami berdoa agar di bantu oleh tuhan kami masing-masing dan saat kami terbangun ternyata kita sudah sampai tempat tujuan.
Pakde langsung sujud syukur. Aku terdiam mendengar cerita itu. Lalu pakdeku bertanya kamu percaya ada gunung yang masih aktif namun gunung itu berada di dasar laut. Aku jawab ia aku percaya. Lalu pakdeku berkata sungguh maha besar Allah ya le lahar yang ada di gunung itu tidak bisa padam oleh air laut walaupun sudah di tenggelamkan. Benar-benar konsep yang luar biasa yang dibuat Allah ya de. Memang Allah is the best. GUSTI Allah adalah terbaik dari yang paking baik. Begitulah cerita singkat yang dialami olehku di kapal ini. Maha besar Allah atas segala Cinta dan Kasih sayangnya.
Selat sunda, 22 Desember 2015
Sujud syukur ku padamu Gusti.
Rahmat Rama Respati.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.