Selasa, 19 Januari 2016

Syekh Malik Abdullah

Nama Syekh Malik Abdullah nama asli Minak Ngediko Pulun Bin Minak Brajo Nato, sanad guru Tidak diketahui bahkan ahli waris keturunannya pun tidak mengetahuinya, lahir tidak mengetahuinya menurut cerita ahli warisnya Beliau saat datang bersama pamannya bernama Minak Sangaji Mentanah adik dari ayahanda syekh bersama 1 kakaknya Minak Pulang Sangdiwo dan adiknya yang bernama Minak Pati Agung datang ke pulau sulawesi ini untuk hijrah.
Dan beliau syekh Malik Abdullah berkata kepada saudara dan pamannya jikalau ayam yang aku bawa berkokok di satu daerah maka aku akan tinggal di daerah itu. Saat perjalanan mereka syekh Ayam yang dibawa itu entah dari mana daerahnya berkokok di lampung dan beliau sempat hilang dari rombongan lalu paman beserta saudaranya mencari syekh Malik Abdullah maka ditemukanlah sedang melakukan bertapa di salah satu lubang yang cukup dalam lalu paman beserta saudaranya melanjutkan perjalanannya.

Syekh Malik Abdullah menurut cerita ahli warisnya adalah bapak guru dari wali songo sebelum wali songo belajar kepada Syekh Gentar Bumi. Syekh Malik Abdullah ini hidup sekitar 300 abat yang lalu. Ia mendapatkan pusaka meriam kecil saat ia melakukan pertapaan di dekat maqbarahnya. Meriam itu digunakan oleh beliau untuk berperang melawan Portugis. wafat tidak diketahui kapan ia wafat. Syekh wafat setelah berbicara kepada penjaganya tentang terbang burung maka terbanglah sangkarnya yang artinya aku akan berjumpa dengan Allah secara utuh jadi keturunanku tidak akan pernah menemui jasadku saja atau hanya ruhku saja karna aku berjumpa secara utuh menemui sang Gusti.

Sejak saat itulah beliau menghilang entah kemana dan bahkan beliau berpesan kepada pengawalnya jangan memberitahu namamu kepada orang lain setelah aku menghilang, alamat maqbarah, nama kuncen Ahmad Fathoni, anak turunannya di mana anak keturunannya tinggal di sekitaran maqbarohnya karna sebelum ia menghilang di tempat maqbarohnya sekarang berpesan agar anak cucunya harus tinggal di tempat dimana ia menghilang, adakah muridnya syehk tidak mempunyai murid karna beliau selalu berpesan aku bukanlah guru tetapi aku juga sama dengan makhluk yang lain aku adalah murid dan guru yang sejati adalah Allah jadi cintailah se cinta-cintanya kepada Allah dan sesopan-sopanlah kepada Allah karna Allah adalah guru kita semua, perawakan beliau kurus seperti aku badannya kecil menggunakan tongkat dan dan kakinya pincang.

Pesan dari beliau yang lain adalah berniat baiklah karna Allah yang maha baik. Kharomah beliau bisa menyembuhkan segala macam penyakit, mampu membuat benteng ghaib menggunakan tongkatnya. Konon cerita mengenai benteng itu digunakan untuk menangkal segala macam bala yang ada di dunia. Alkisah kampung itu ingin diserang menggunakan meriam oleh portugis tetapi saat bola meriam itu titembakkan tiba-tiba bola meriam itu hilang dan meledak di dalam markas portugis.

Benteng yang dibuat itu mengelilingi kampung itu. Bahkan setiap orang yang datang ke kampung seputih surabaya lampung berniat buruk akan kehilangan nyawanya setelah sehari orang itu berada di kampung seputih surabaya lampung itu. Bahkan pusaka peninggalan beliau sering diincar penjahat karena 1 pusaka beliau mampu membeli 1 negara jika dijual. Awalnya beliau tidak ingin banyak yang mengetahui bahwa dia syekh sebelum ia menghilang karna tidak ada yang patut dibanggakan dariku selain kalian mempelajari kekuranganku. Karna yang wajib berbangga hanya Allah Ajjawajalla. Sang pemilik jagad raya dan jagad alit.

Aku mengutus seekor macan putih tanpa bulu untuk menjaga tempat pertapaanku dan aku mengutus 2 algojo yang sangat besar untuk menjaga pintu masuk pertapaaanku dan aku mengutus 2 makhluk untuk menjaga pintu masuk tempatku menghilang dan 2 orang untuk menjaga pelataran tempatku menghilang dan 2 lagi untuk menjaga ruangan tenpat ku menghilang. Sang kuncen bercerita tentang adiknya yang bernama Ayu. Ibu Ayu adik saya itu pernah mengitari pulau jawa dalam kurun waktu sebentar saja.
Kejadian itu terjadi saat ibu Ayu masih berumur 5 tahun menurut cerita Ibu Ayu saat saya kecil berumur 5 tahun saya suka sekali bermain di wilayah pertapaan Syekh Malik Abdullah. Saat saya sedang bermain saya bertemu dengan seorang kakek-kakek tua yang perawakannya mirip seperti Syekh Malik Abdullah dan beliau mengajakku untuk masuk kedalam lubang yang seperti sumur itu. Setelah saya masuk saya diajak oleh beliau untuk berkeliling pulau jawa dalam waktu yang sangat singkat.

Dan saat mereka berjalan mengitari pulau jawa mereka di bagai oleh 3 ekor burung hantu berwarna putih yang hingga saat ini selalu datang tiba-tiba ke maqbarah beliau dan bertengger diatas cungkup beliau saat fajar tiba ketiga burung itu terbang dan menghilang entah kemana. Dan di depan maqbarah ada lapangan untuk bermain bola. Jika ada yang bermain bola dan menyimpan dendam, iri dan sebagainya maka kakinya akan patah dan tidak akan bisa disembuhkan sebelum memohon maaf pada Allah dan dirinya sendiri juga kepada orang yang bersangkutan. Itu di sebabkan karena kakinya di tendang oleh seekor kuda berwarna merah.
Dan yang menjaga kampung itu adalah 2 ekor kuda berwarna hitam dan merah. Mereka mempunyai tugas masing-masing yaitu kuda hitam menjaga tamu yang datang dengan niat yang baik sedangkan kuda yang merah memberikan bala apapun kepada orang yang berniat buruk. Dia yang pertama kalinya menyebarkan agama di sumatra adalah beliau Syekh Malik Abdullah. Dari ujung pintu masuk kampung itu aku disambut dengan angin yang sangat sejuk juga bau bunga yang tidak putus hingga aku keluar dari perkampungan itu lagi.

Dan anehnya saat angin itu berhembus menurutku cukup kencang tetapi tidak ada daun yang bergoyang yang berada di sekitar ku.
Saat aku datang ke petilasan syekh ternyata saat aku berbincang-bincang sama kuncennya tidak bisa sembarangan orang yang bisa masuk ke dalam petilasan itu karna sebelum masuk kedalam petilasan itu konon ceritanya jika tidak diijinkan untuk berkunjung maka pintu kecil sebelum masuk kedalam itu tiba-tiba menyempit dengan sendirinya. Tapi alhamdulillah segala puji bagi Allah aku diijinkan bisa memasuki sampai kedalam petilasannya. Terimakasih ya Allah.

Begitulah pengalaman tentang perjalannku

Seputih Surabaya, Lampung
Senin, 21 Desember 2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.